Minggu, 15 November 2009

KEPERCAYAAN DIRI

A. Teori Konseptual
1. Definisi
Lauster menyatakan bahwa pada dasarnya, kepercayaan diri merupakan salah satu dari sifat kepribadian manusia yang sangat menentukan. Pada dasarnya kepercayaan diri tidak mudah untuk diubah tetapi bukan berarti pula untuk tidak dapat diperbaiki.
Menurut James O Lugo, kepercayaan diri merupakan ciri orang yang kreatif dan biasanya orang tersebut mendapatkan self assurance “keyakinan pada kemampuan sendiri”.
Rasa percaya diri adalah dimensi evaluatif yang menyeluruh dari diri. Bandura memberikan batasan pengertian kepercayaan diri sebagai suatu keyakinan seseorang bahwa dirinya akan dengan sukses mampu berperilaku seperti yang dibutuhkan agar sesuai dengan hasil yang diharapkan.
Gilmer menyatakan bahwa kepercayaan diri berkembang melalui self understanding “pemahaman diri” dan berhubungan dengan kemampuan bagaimana kita belajar menyelesaikan tugas di sekitar kita, terbuka terhadap pengalaman-pengalaman baru dan suka menghadapi tantangan. Dubrin menyatakan bahwa kepercayaan diri dari keyakinan akan kemampuan dan kondisi yang ada pada individu itu sendiri. Kepercayaan diri diperlakukan untuk menghadapi sejumlah situasi dengan tenag dan terarah sehingga tekanan psikologis dapat teratasi.
Kepercayaan diri, diartikan sebagai suatau perasaan atau sikap tidak perlu membandingkan diri dengan orang lain, karena telah merasa cukup aman dan tahu apa yang dibutuhkan di dalam hidup ini. Orang yang mempunyai kepercayaan diri tidak memerlukan orang lain sebagai standar, karena dapat menentukan standar sendiri, selalu mampu mengembangkan motivasinya.
Kepercayaan diri adalah kemampuan berpikir secara original. Berpikir, aktif, agresif dalam mendekati pemecahan masalah dan tidak lepas dari situasi lingkungan yang mendukungnya. Bertanggung jawab atas keputusan yang telah diambil, mampu menatap fakta dan realita secara obyektif yang didasari kemampuan dan ketrampilan.
Percaya diri sebenarnya merupakan keberhasilan dari pengamatan “harga diri” yang dimiliki secara berharap dalam proses penyesuaian diri dengan lingkungan. Karena masa kanak-kanak merupakan suatu proses yang terus berkembang. Proses penyesuaian diri dapat dikatakan berhasil bila seseorang dapat memenuhi tuntutan lingkungannya dan diterima oleh orang-orang di sekitarnya sebagai bagian dari mereka. Sedangkan orang tua otorier bersikap sebagai penguasa. Biasanya berwatak keras dengan perwujudan “hitam-putih” dengan keharusan dan larangan yang dirasakan kaku bagi si anak. Pada orang tua tipe penguasa ini biasanya hubungan dengan si anak tidak hangat, kurang afeksi, kurang kasih sayang, dan tentunya tidak akrab (berjarak). Disini banyak ditemukan anak-anak yang kurang mempunyai kepercayaan diri.

2. Ciri-ciri Kepercayaan Diri
Lauster menyebutkan ciri-ciri orang yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi adalah tidak mementingkan diri sendiri, cukup toleran. Ambisius, tidak memerlukan dukungan orang lain, tidak berlebihan, selalu optimis dan gembira, serta dipengaruhi untuk bersikap bebas merdeka. Oleh seba itu, orang yang memliki kepercayaan diri yakin akan kemandiriannya, karena ia cukup yakin pada dirinya, ia tidak akan secara berlebihan mementingkan dirinya sendiri yang akan mengarah ke congkak, sehingga individu itu bisa dikatakan cukup toleran dan selalu optimis. Tidak perlu bagi dirinya untuk melakukan kompensasi dari keterbatasannya.
Waterman memberikan cirri orang yang memiliki kepercayaan diri adalah sebagai orang yang mampu bekerja secara efektif mampu melaksanakan tugas-tugas dengan baik dan secara relative bertangung jawab serta merencanakan masa depan, serta melibatkan baerbagai alternative pemikiran, yaitu:
a. Aktif mendekati tujuan
b. Dapat memebedakan antara pengetahuan dan perasaan serta dapat memberi keputusan yang dipengaruhi intelektualnya.
c. Mampu secara mandiri menganalisis dan mengontrol pikiranya dalam hubungan yang tepat.
Abdul Aziz mencirikan orang yang kepercayaan dirinya rendah adalah:
a. Tidak aman, adanya rasa takut, tidak bebas
b. Ragu-ragu, lidah terasa terkunci dihadapan banyak orang, murung, pemalu, dan kurang berani.
c. Membuang-buang waktu dalam mengambil keputusan
d. Ada perasaan rendah diri, pengecut
e. Kurang cerdas, cenderung untuk menyalahkan suasana luas sebagai penyebab masalah yang dihadapi.
Lebih jauh Neisser menyatakan bahwa orang yang memiliki kepercayaan diri rendah biasanya bergaya besar, agresif, berusaha untuk menarik perhatian, sering canggung dalam pergaulan, memiliki rasa cemas, serta takut untuk mencoba atau mengadakan eksploitas dalam mengembangkan pengenalan dan penyesuaian terhadap lingkungan.
Lauster menarabahkan bahwa dalam konteks berhubungan dengan orang lain kepercayaan diri yang rendah terlihat sebagai rasa malu, kebingungan, rendah hati yang berlebihan, kemasyhuran yang besar, kebutuhan yang berlebihan untuk pamer keinginan.

B. Definisi Operasional
Kepercayaan diri pada remaja merupakan suatu keyakinan yang berasal dari dalam diri individu tentang kemampuan dirinya, pemahaman kebutuhan yang ada dan memiliki standar yang sesuai dengan kemampuan sehingga individu berperilaku sesuai dengan harapan untuk mendapatkan hasil yang optimak dari perilaku tersebut. Lauster menyebutkan ciri-ciri orang yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi adalah tidak mementingkan diri sendiri, cukup toleran, ambisius, tidak memerlukan dukungan orang lain, tidak berlebihan, selalu optimis dan gembira, serta dipengaruhi untuk bersikap bebas merdeka. Oleh sebab itu, orang yang memiliki kepercayaan diri yakin akan kemandiriannya, akrena ia cukup yakin pada dirinya, ia tidak akan secara berlebihan mementingkan dirinya sendiri yang akan mngarah ke congkak, sehingga individu itu bisa dikatakan cukup toleran dan selalu optimis. Tidak perlu bagi dirinya untuk melakukan kompensasi dari keterbatasannya.


Daftar Pustaka:

Amitya Kumara, Studi Pendahuluan Tentang Vadilitas dan Realibilitas The Test Of Self Confidence. (Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada, 1988)

Ellyana. Studi Hubungan Konsep Diri Dengan kebutuhan Berafiliasi dan Kepercayaan Diri. Skripsi

http://www.indonesia.com/intisari/2000/februari/pede.html

S Yusuf L.N, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. (Bandung : Cetakan Keempat, PT. Remaja Rosdakarya, 2004)

ads

Ditulis Oleh : Lukman Psikologi Hari: 11.50 Kategori:

0 komentar:

Poskan Komentar