Minggu, 21 Maret 2010

FAKTOR-FAKTOR GENETIK YANG MEMPENGARUHI INTELIGENSI

A. Heritability (Hereditas)
Secara biologis, individu berkembang dari dua sel benih yaitu sel telur (ovum) yang ada pada ibu dan sel sperma yang berasal dari ayah dan akan membuahi sel telur. Sperma dan sel telur masing-masing berisi 23 kromosom, yaitu struktur yang berisi factor-faktor herediter. Di dalam setiap kromosom terdapat struktur yang lebih kecil lagi yang disebut gen. gen inilah yang sesungguhnya menjadi penentu sifat-sifat unik yang akan diturunkan termasuk inteligensi.
Penelitian membuktikan bahwa korelasi nilai tes IQ dari satu keluarga sekitar 0,50. Sedangkan di antara 2 anak kembar, korelasi nilai tes IQnya sangat tinggi, sekitar 0,90. Bukti lainnya adalah pada anak yang diadopsi. IQ mereka berkorelasi sekitar 0,40 - 0,50 dengan ayah dan ibu yang sebenarnya, dan hanya 0,10 - 0,20 dengan ayah dan ibu angkatnya. Selanjutnya bukti pada anak kembar yang dibesarkan secara terpisah, IQ mereka tetap berkorelasi sangat tinggi, walaupun mungkin mereka tidak pernah saling kenal.

B. Brain(Otak)
Penelitian dengan teknik neuroimaging membuktikan bahwa volume otak berkorelasi dengan IQ. Bukti ini didapat dengan mengukur ukuran helm tentara AS yang sedang mengikuti training dan dibandingkan dengan IQ-nya. Walaupun demikian korelasi tersebut cukup kecil.
Manusia memiliki otak yang struktur dan fungsinya merupakan cetak biru (blueprint) genetik. Di dalam cetak biru genetik inilah dikodekan juga kemampuan sel-sel otak tersebut untuk melakukan penggabungan bersama dalam membentuk ikatan antar sel dan rangkaian fase di dalam keadaan tertentu. Dengan demikian, kita memiliki kemampuan membentuk ikatan antar sel sejak dilahirkan.
Jadi seorang secara genetis telah lahir dengan suatu organisme yang disebut inteligensi yang bersumber dari otaknya. Struktur otak telah ditentukan secara genetis, namun berfungsinya otak tersebut menjadi kemampuan umum yang disebut inteligensi (Semiawan, C, 1997). Pada kala bayi lahir ia telah dimodali 100 - 200 milyar sel otak dan siap memproseskan beberapa trilyun informasi. Cara pengelolaan inteligensi sangat mempengaruhi kualitas manusianya, tetapi sayang perlakuan lingkungan dalam caranya tidak selalu menguntungkan perkembangan inteligensi yang berpangaruh terhadap kepribadian dan kualitas kehidupan manusia. Ternyata dari berbagai penelitian bahwa pada umumnya hanya kurang lebih 5% neuron otak berfungsi penuh (Clark, 1986).
Sebagaimana penjelasan di atas, maka cara penggunaan sistem kompleks dari proses pengelolaan otak ini sebenarnya sangat menentukan inteligensi maupun kepribadian dan kualitas kehidupan yang dialami seorang manusia, serta kualitas manusia itu sendiri. Untuk meningkatkan kecerdasan anak maka produksi sel neuroglial, yaitu sel khusus yang mengelilingi sel neuron yang merupakan unit dasar otak, dapat ditingkatkan melalui berbagai stimulus yang menambah aktivitas antara sel neuron (synaptic activity), dan memungkinkan akselerasi proses berfikir(Thompsn, Berger, dan Berry, 1980 dalam Clark, 1986). Dengan demikian inteligensi manusia dapat ditingkatkan, meskipun dalam batas-batas tipe inteligensinya.
Secara biokimia neuron-neuron tersebut menjadi lebih kaya dengan memungkinkan berkembangnya pola pikir kompleks. Juga banyak digunakan berkembangnya aktivitas "Prefrontal cortex" otak, sehingga terjadi perencanaan masa depan, berfikir berdasarkan pemahaman dan pengalaman intuitif, Prefrontal cortex yang terutama tumbuh pada ketika anak berumur duabelas sampai enambelas tahun mencakup juga kemampuan melihat perubahan pola ekstrapolasi kecendrungan hari ini ke masa depan; regulasi diri serta strategi "biofeedback" dan meditasi; berfikir sistem analisis;yang merupakan aspek-aspek bentuk tertinggi kreativitas serta memiliki kepekaan sosial, emosional maupun rasional (Goodman, 1978, dalam Clark, 1986). Sifat-sifat manusia ini banyak terkait dengan sifat-sifat inisiatif dan dorongan mencapai kemandirian dan keunggulan.
Otak dewasa manusia tidak lebih dari 1,5 kg, namun otak tersebut adalah pusat berfikir, perilaku serta emosi manusia mencerminkan seluruh dirinya (selfhood), kebudayaan, kejiwaan serta bahasa dan ingatannya. Descartes pusat kesadaran orang, ibarat saisnya, sedangkan badan manusia adalah kudanya. Meskipun kemudian ternyata, bahwa perilaku manusia juga dipengaruhi oleh ketidaksadarannya (freud dalam Zohar, 2000:39), kesadaran manusia yang oleh Freud disebut rasionya merupakan kemampuan umum yang mengontrol seluruh perilaku manusia. Berbagai penelitian kemudian membuktikan bahwa kemampuan rasional tersebut biasa diukur dengan IQ (Intelligence Quetient). Meskipun kini terbukti bahwa orang memiliki lebih dari satu inteligensi menurut teori Gardner ada 8 (teori Multiple Intelligence), ukuran yang disebut IQ mengukur kemampuan umum yang bersifat tunggal masih sering dipakai untuk menandai kemampuan intelektual dan prestasi belajar. Ternyata bahwa otak tersebut masih menyimpan berbagai kemungkinan lain.
"Celebral Cortex" otak dibagi dalam dua belahan otak yang disambung oleh segumpal serabut yang disebut "corpus callosum". Belahan otak kanan menguasai belahan kiri badan, sedangkan belahan otak kiri menguasai belahan kanan badan. Respons, tugas dan fungsi belahan kiri dan kanan berbeda dalam menghayati berbagai pengalaman belajar, sebagaimana seorang mengalami realitas secara berbeda-beda dan unik. Belahan otak kiri terutama berfungsi untuk merespons terhadap hal yang sifatnya linier, logis, teratur, sedangkan yang kanan untuk mengembangkan kreativitasnya, mengamati keseluruhan secara holistik dan mengembangkan imaginasinya. Dengan demikian ada dua kemungkinan cara berfikir, yaitu cara berfikir logis, linier yang menuntut satu jawaban yang benar dan berfikir imaginatif multidimensional yang memungkinkan lebih dari satu jawaban.


DAFTAR PUSTAKA

Azwar, Saifuddin. Pengantar Psikologi Inteligensi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002

Sabtu, 20 Maret 2010

MODEL-MODEL MEMORY

Memory: kemampuan individu untuk menerima, menyimpan dan memproduksi kembali informasi atau kesan-kesan.
Ingatan atau memory menunjuk pada proses penyimpanan atau pemeliharaan informasi sepanjang waktu.

1. Model Waugh dan Norman (1965)
- memory primer (singkat): kemampuan individu untuk menyimpan informasi dalam beberapa detik saja.
- Memory sekunder (panjang/permanent): kemampuan individu untuk menyimpan informasi dalam ukuran menit (ingatan jangka panjang)
Ciri-cirinya: cenderung visual / ekustik, sering kali terjadi lupa karena gagal dalam mengingat kembali.

2. Model “modal model” tradisional dari Atkinson & Shiffrin (1968)
o Sensory Memory: bagaimana cara kita menangkap informasi melalui panca indera; Pencatatan indera.
o Short Term Memory (STM): tempat singgahnya informasi sebelum menuju ke LTM, waktunya hanya 0-18detik. Diperlukan adanya pengulangan sebelum menuju LTM.
o Long Term Memory (LTM): isinya berkaitan dengan masa lalu.

3. Model “Level of Processing Approach (LOP)” dari Craik & Lockhat
o Kedangkalan: semakin dangkal kita menerima informasi (tidak mempunyai makna). Maka itu akan berpengaruh pada ingatan. Kita akan menjadi cepat lupa.
o Kedalaman: ketika kita menerima informasi secara rinci (sedalam-dalamnya), maka informasi itu akan menetap di ingatan kita.→lebih mendalami informasi.
- maintance: pengulangan
- elaborative: memaknai dulu

4. Model system memory jamak dari Tulving (1922)
(-) Episodik: pengalaman personal yang dihubungkan dengan kejadian yang lain (temporal)
(-) Semantik: konseptual (kosa kata)
Perbedaan:
Episodik :
1. Sumber Informasi: Pengalaman sensoris
2. unit informasi: Episode & kejadian
3. organisasi: Behubungan dg waktu
4. keterlibatan emosi:Lebih penting
5. kondisi kelupaan : Besar
6. waktu yg dibutuhkan u/ mengingat informasi: Relatif lama
7. uji di lab : Merecall episode tertentu
8. manfaat umum : Kurang Manfaat
Semantik :
1. Sumber Informasi: Pengertian
2. unit informasi: Konsep, ide, fakta.
3. organisasi: Konseptual
4. keterlibatan emosi:Kurang penting
5. kondisi kelupaan : Kecil
6. waktu yg dibutuhkan u/ mengingat informasi: Relatif cepat
7. uji di lab : Pengetahuan umum
8. manfaat umum : Lebih Manfaat

5. Model sudut pandang koneksionisme dai James Mc.Clelland
Spontanius Generalitation: Menarik kesimpulan tentang informasi umum yang belum dipelajari sebelumnya.

6. Model working memory (WM) oleh Baddeley (1986)
Kebalikan dari STM yang bersifat pasif. WM bersifat aktif melalui analisis karena informasi yang berada di WM diolah/dianalisis terlebih dahulu sebelum menuju Long Term Memory. WM tidak bututh pengulangan spt STM, tetapi informasi langsung dianalisis sendiri karena di dalamnya sudah ada olah data.

Kamis, 18 Maret 2010

TES BAKAT

 Inteligensi selalu berperan dalam kehidupan
Istilah inteligensi
 Vernon : 1973
1. Bawaan: kapasitas bawaan yang diterima dari orang tuanya melalui gen yang nantinya mempengaruhi perkembangan mental individu.
2. Pandai: dilihat dari apa yang nampak (penalaran, pemahaman, dan efisien dalam aktivitas mental)
3. Umur mental: kemampuan yang diukur melalui tes inteligensi.
 Donald Olding Hebb
“Tipe A dan tipe B : Genotip inteligen & fenotip inteligensi”
 Tipe A (genotip inteligensi): merupakan bawaan termasuk berhubungan dengan fisik. Misal: otak dan susunan saraf.
 Tipe B (fenotip inteligensi) : unsur yang nampak → perilaku
 Raymond B. Catell
 Fluid intelligence: inteligensi mengalir
 Crystallized intelligence: inteligensi mengkristal
Kemampuan umum / factor “g” sebenarnya terdiri dari komponen:
• General fluid: adalah pengaruh-pengaruh biologis terhadap perkembangan intelektual
• General crystallized: adalah interaksi kemampuan bawaan dengan kebudayaan, pendidikan, dan pengalaman.
Menurut Ctell Gf dan Gc dapat diukur dengan tes inteligensi khusus sedang konsep Hebb tipe A hamper dipastikan tidak dapat diukur, sedang tipe B dapat diukur.
Konsep bakat muncul karena:
 Ketidakpuasan terhadap tes inteligensi (karena IQ = skor tunggal) hanya memiliki variasi internal
 Tes inteligensi tidak membarikan rekomendasi tentang analisis kemampuan secara diferensial. Oleh karena itu para ahli melakukan analisis diferensial
 Dalam bidang klinis, para psikolog melakukan interkomparasi (membandingkan) berbagai sub tes inteligensi. Hal ini sangat berguna untuk memberikan rekomendasi lebih lengkap tentang kondisi klien → mensejahterahkan klien.
Definisi Bakat
 Bingham (Bennet, 52): “Bakat adalah kondisi atau rangkaian karakteristik yang dipandang sebagai gejala kemampuan individu untuk memperoleh kemampuan, keterampilan atau serangkaian respon melalui latihan”
 Ki Hajar Dewantara: “Dasar-ajar” (hereditas & latihan)
 Para ahli menggunakan analisis factor terbukti bahwa tes inteligensi mengukur kemampuan jamak / multiple factor.
 Pelopor analisis factor / general ability:
Spearman: (Teori 2 faktor) menerangkan bahwa setiap aktivitas mental ditunjukkan oleh factor spesifik (s) yang berbeda. Semua factor yang spesifik akan bersama-sama membentuk single common factor / “g” factor. Dengan demikian setiap perilaku manusia akan memiliki factor “s” yang berbeda dan “g” yang sama.
Thurstone: (Primary Mental Ability)
Ada beberapa factor primer dalam inteligensi, yaitu:
V. Verbal Comprehension: (kemampuan verbal) atau faktor verbal adalah merupakan kemampuan menggunakan bahasa
W. Word Fluency: (kefasihan kata-kata), yaitu faktor kelancaran menggunakan kata, dan factor ini secara umum dianggap suatu indicator mudah tidaknya seseorang mengubah rasionya dan mengalihkan rasionya sesuai kebutuhan.
N. Number Facility: atau faktor bilangan, yaitu kemampuan untuk bekerja dengan bilangan (kecakapan hitung menghitung)
S. Spatial Relation: (relasi ruang), adalah merupakan kemampuan untuk mengadakan orientasi dalam ruang (baik dua atau tiga dimensi)
M. Memory: atau factor ingatan, yaitu merupakan kemampuan untuk mengingat
P. Perceptual Speed: atau kecepatan persepsi yaitu factor persepsi merupakan suatu kemampuan untuk mengamati dengan cermat dan tepat.
I. Induction: factor Induksi, yaitu kemampuan untuk berpikir yang logis.
R. Reasoning: kemampuan meengambil simpulan dari beberapa contoh, aturan, atau prinsip, yang dapat juga diartikan sebagai kemampuan memecahkan masalah baik secara deduktif maupun induktif

Guilford: (Teori Struktur Intelek)
Dalam teorinya Guilford mengklasifikasikan inteligensi menjadi tiga dimensi, yaitu dimensi operasi, isi, dan produk. Masing-masing dimensi terdiri dari kecakapan intelek. Dimensi yang dimaksud diantaranya:
1. Operasi (proses atau tindakan) yang dilakukan, yaitu:
a. Kognitif
b. Memori
c. Berpikir divergen / searah
d. Berpikir konvergen / kreatif
e. evaluasi
2. Dimensi Isi (materi atau isi kegiatan intelektual)
a. Figural
b. Simbolik
c. Semantic (kata-kata)
d. Behavioral meliputi pula sikap dan kebutuhan
3. Dimensi Produk (semacam produk/hasil dari penerapan tindakan-tindakan tertentu pada suatu jenis materi tertentu), yaitu:
a. Unit (satuan)
b. Kelas
c. Hubungan
d. Sistem
e. Transformasi
f. Implikasi
Berdasarkan teori 3 dimensi setiap manusia memiliki 120 kemampuan.
 Dimensi bakat menurut Guilford meliputi: persepsi (mengukur kepekaan masing-masing indera yang berhubungan dengan perhatian), psikomorik, dan intelektual
 Funsi persepsi yang kompleks: bentuk, pola, hubungan berbagai bentuk, semuanya termasuk dimensi intelek.
 Psikomotorik yang diukur: kekuatan, kecepatan, permulaan, ketepatan, koordinasi, dan fleksibilitas gerakan
 Intelek meliputi: ingatan dan berpikir (kognitif, produk, evaluasi)
 Factor evaluasi: kemampuan melakukan testing informasi dan membuat kesimpulan yang tepat, dapat diterima, baik dan cermat. Meliputi keputusan tentang identitas, relasi, konsistensi dan tujuan yang memuaskan.
Teori Vernon: (Teori Hirarki)
 Teori hirarki yang tertinggi adalah “g” factor
 Yang dibawahnya ada 2 faktor yaitu kelompok factor verbal-education (Ved) yang disebut pula kemampuan akademik, kemampuan spatial, practical, perceptual (K:M / Klerikal Mekanik)
Kemampuan akademik meliputi: verbal, numerical, reasoning
Sedangkan kemampuan praktis meliputi: spasial, mekanik, psikomotorik, fisik, dan persepsi.
 Hirarki selanjutnya adalah factor spesifik.
Berdasarkan teori multifactor disusunlah bateray yang memberikan rekomendasi analisis diferensial.

Rabu, 17 Maret 2010

PROSES MEMORY

A. Encoding: tahap pemesukan.
Pesan dalam bentuk signal:
 STM : Cara melihat tidak dimaknai (sebentar)
 LTM : Dimaknai dalam-dalam (agak permanent)
B. Storage: tahap penyimpanan informasi
C. Retrieval: tahap pengingatan kembali atau reproduksi pesan-pesan.
 STM
- Paralel processing: mengungkap secara keseluruhan (informasi) yang sudah kita punyai sebelumnya.
- Serial processing: mengungkap satu per satu:
 Exhaustive processing: masih ada compare terhadap informasi yang lama.
 Self terminating serial processing: langsung memilihkan infprmasi (focus) langsung pada bendanya.
 LTM
 Cued recall: untuk mempermudah, dg mengkategorisasikan. Ex: kita tahu nama2 mobil terus mengategorisasikan termasuk jenis mobil apa.
 Mood: berkaitan dengan informasi yang kita tangkap. Item/informasi yang menyenangkan akan mudah dikeluarkan.
 Mood congruen: berkaitan dengan kondisi kita. Ketika kita merasa senang, maka kita akan mudah menangkap informasi.
Proses STM-LTM:
a) Consolidation: menggabungkan informasi baru dengan informasi yang sudah ada dalam ingatan kita.
b) Pengulangan hafalan: semakin banyak latihan menghafal, maka menancap pula informasi di LTM.
c) Elaborative dan Maintance Rehearsal: pengulangan informasi yang sudah kita dapat.
d) Menemonic Devices: salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengingat sejumlah daftar kata.
 External memory aids: catatan kuliah, baca pelajaran.
 Forcing function: objek yang memaksa kita mengingat sesuatu; kita meminjam buku teman, kemudian besok buku itu kita siapkan di tas agar tidak lupa mengembalikan.

KONSEP DAN PRINSIP PSIKOLOGI PERKEMBANGAN

A. KONSEP PSIKOLOGI PERKEMBANGAN
Psikologi perkembangan merupakan salah satu lapangan dalam ilmu psikologi yang membahas tentang perubahan dan faktor-faktor umum yang mempengaruhi perubahan pada manusia baik yang bersifat fisik maupun psikis akibat adanya proses kematangan dan interaksi lingkungan.
Perkembangan ini bersifat sistematis, progresif, dan berkesinambungan .
Sistematis : Berarti adanya keterkaitan antara faktor fisik dengan aspek kejiwaan atau tingkah laku yang ditimbulkan. Contoh: anak bayi bisa berjalan karena kematangan otot yang sudah kuat untuk berjalan.
Progresif : Berarti bahwa perkembangan menunjuk pada suatu proses ke arah yang lebih sempurna seiring dengan bertambahnya umur manusia. Contoh: perubahan anak dari kecil menjadi dewasa serta perubahan pengetahuan dan kemampuan yang lebih baik.
Berkesinambungan : Berarti proses perubahan itu sifatnya bertahap. Contoh: untuk bisa berjalan seorang bayi pasti melalui tahapan melata, merangkak, dan berdiri. Begitupun berjalan adalah merupakan syarat tahapan anak untuk bisa berlari.
Istilah perkembangan sendiri mulanya berasal dari biologi, kemudian pada abad ke-20 ini kata perkembangan dipergunakan oleh psikologi . Oleh karena itu ada istilah lain yang digunakan oleh para ahli untuk menyebut psikologi perkembangan yaitu: genetic psychology (psikologi genetik), kata ini berasal dari kata genese yang artinya pertumbuhan, untuk selanjutnya ada sebagian ahli yang menggunakan istilah Child Psychology (psikologi anak), hal ini disebabkan karena dalam kenyataan pembahasannya lebih banyak diperhatikan tentang perkembangan bayi, anak, dan remaja.
Reese dan Lipsitt (1970) meringkas berbagai usaha untuk membedakan psikologi perkembangan, psikologi anak, dan perkembangan anak. Mereka menggambarkan psikologi perkembangan sebagai studi tentang perubahan tingkah laku yang berhubungan dengan perubahan umur manusia. Kemudian mereka menguraikan studi perkembangan tingkah laku selama masa kanak-kanak sebagai bagian dari psikologi perkembangan yang disebut sebagai psikologi anak .
Konsep perkembangan sendiri dirumuskan oleh H. Werner (1957) sebagai berikut: “Perkembangan sejalan dengan prinsip orthogenetis yang mengemukakan bahwa perkembangan berlangsung dari keadaan yang global dan kurang berdiferensiasi sampai ke keadaan di mana diferensiasi, artikulasi dan integrasi meningkat secara bertahap” .
Suatu definisi yang relevan juga dikemukakan oleh MÖnks sebagai berikut: “Perkembangan psikologis merupakan proses yang dinamis. Dalam proses tersebut sifat individu dan sifat lingkungan menentukan tingkah laku apa yang akan menjadi actual dan terwujud. Umur kalender di sini bukan merupakan suatu variabel yang bebas, melainkan merupakan suatu dimensi waktu untuk mengatur bahan-bahan (data) yang ada”.
Konsep perkembangan menurut pandangan islam juga disebutkan dalam ayat Al-Qur’an, sebagai salah satu contoh adalah firman Allah dalam QS.As-Sajdah ayat 9 yang artinya: “Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi kamu sedikit sekali bersyukur”. Faktor perkembangan yang bersifat fisik digambarkan pada pendengaran dan penglihatan, sedangkan yang bersifat psikis ada pada hati manusia yang mana kedua faktor ini dipengaruhi kematangan biologis, dalam ayat disebutkan dengan diciptakannya tubuh yang sempurna, dan interaksi lingkungan yang mana ditiupkannya roh ciptaan-Nya dalam tubuh manusia dengan dibekali akal dan nafsu yang cenderung menyukai keindahan dunia.



B. PRINSIP PSIKOLOGI PERKEMBANGAN
Dr. H. Syamsul Yusuf dalam bukunya Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja menjelaskan adanya 6 prinsip dalam perkembangan yaitu:
1. Perkembangan merupakan proses yang tidak pernah berhenti (never ending process)
Perkembangan berlangsung secara terus-menerus yang dipengaruhi oleh pengalaman atau belajar sepanjang hidupnya sampai mencapai kematangan atau masa tua.
2. Semua aspek perkembangan saling mempengaruhi
Setiap aspek perkembangan individu, baik fisik, emosi, inteligensi maupun sosial, satu sama lainnya saling mempengaruhi.
3. Perkembangan itu mengikuti pola atau arah tertentu
Perkembangan terjadi secara teratur mengikuti pola atau arah tertentu. Setiap tahap perkembangan merupakan hasil perkembangan dari tahap sebelumnya yang merupakan prasyarat bagi perkembangan selanjutnya.
4. Perkembangan terjadi pada tempo yang berlainan.
Perkembangan fisik dan mental mencapai kematangannya terjadi pada waktu dan tempo yang berbeda (ada yang cepat dan ada yang lambat).
5. Setiap fase perkembangan mempunyai ciri khas
Para ahli telah banyak mengadakan penelitian dan menetapkan fase-fase perkembangan yang sesuai dengan umur masing-masing pada umumnya untuk dijadikan pedoman dalam mempelajari perkembangan individu.
6. Setiap individu yang normal akan mengalami tahapan / fase perkembangan
Prinsip ini berarti bahwa dalam menjalani hidupnya yang normal dan berusia panjang individu akan mengalami fase-fase perkembangan: bayi, kanak-kanak, anak, remaja, dewasa, dan masa tua.





DAFTAR PUSTAKA

Gunarsa, Singgih D. Dasar dan Teori Perkembangan Anak, Jakarta: PT BPK Gunung
Mulia, 2003
L, Zulkifli. Psikologi Perkembangan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2003
Labarba, Richard C. Foundations of Developmental Psychology, USA: Academic Press,
1981
MÖnks, F. J, dkk. Psikologi Perkembangan Pengantar Dalam Berbagai Bagiannya,
Yogyakarta: Gajah Madah University Press, 2004
Yusuf, Syamsul. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2002

Selasa, 16 Maret 2010

Pengantar Psikologi

Psikologi berasal dari bahasa Yunani Kuno yang terdiri dari dua kata yaitu: (psyche = jiwa dan logos = kata). Jadi secara harfiah psikologi dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang jiwa/mental. Namun demikan psikologi tidak mempelajari jiwa/mental itu secara langsung karena sifatnya yang masih abstrak, tetapi psikologi membatasi pada manifestasi dan ekspresi dari jiwa/mental tersebut yakni berupa tingkah laku dan proses atau kegiatannya(behavior), sehingga Psikologi dapat didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku manusia.

Sebelum Wundt mendeklarasikan laboratoriumnya tahun 1879 – yang dipandang sebagai kelahiran psikologi sebagai ilmu – pandangan tentang manusia dapat ditelusuri jauh ke masa Yunani kuno. Dapat dikatakan bahwa sejarah psikologi sejalan dengan perkembangan intelektual di Eropa, dan mendapatkan bentuk pragmatisnya di benua Amerika.
Sejarah Psikologi ini dibagi ke dalam beberapa periode dengan berbagai tokohnya.
________________________________________

________________________________________
Psikologi sebagai bagian dari filsafat
• Masa Yunani
• Masa Abad Pertengahan
• Masa Renaisanse

Psikologi sebagai bagian dari ilmu faal
• Masa Pasca Renaisans

Psikologi sebagai ilmu yang mandiri
• Masa akhir abad ke-19

Memasuki abad ke-20, psikologi berkembang dalam berbagai school of thought. Kalau Wundt meletakkan dasar bagi psikologi dengan pandangan strukturalisme, maka selanjutnya berbagai aliran utama yang muncul adalah sebagai berikut.
• Fungsionalisme
• Behaviorisme
• Psikoanalisa
• Psikologi Gestalt
• Psikologi Humanistik

Sumber kepustakaan dalam semua tulisan dalam modul ini adalah:
Brennan, J.F. (1991). History and Systems of Psychology. New Jersey : Prentice Hall Inc.
Lundin, (1991). Theories and Systems of Psychology. 4 rd Ed. Toronto: D.C. Heath and Company.
Walgito, Bimo. Pengantar Psikologi Umum, Yogyakarta: Andi Offset,1992.

Senin, 15 Maret 2010

PSIKOLOGI KLINIS

A. Pengertian
Psikologi Klinis merupakan bentuk psikologi terapan untuk menentukan kapasitas dan karakteristik tingkah laku individu dengan menggunakan metode-metode pengukuran assessment, analisa dan observasi serta uji fisik dan riwayat sosial agar dapat diperoleh saran dan rekomendasi untuk membantu penyesuaian diri individu secara tepat. (American Psychological Association: 1935).
Witmer (1912) dikutip oleh Sutardjo menyatakan bahwa psikologi klinis adalah metode yang digunakan untuk mengubah atau mengembangkan jiwa seseorang berdasarkan hasil observasi dan eksperimen dengan menggunakan teknik penanganan pedagogis. Namun, Woodworth (1937) berkeberatan dengan definisi atau pengertian psikologi klinis yang disampaikan Witmer ini. Menurutnya, jika pengertian psikologi klinis itu seperti yang dikemukakan Witmer, sebaiknya tidak disebut psikologi klinis melainkan sebagai psikologi untuk memberi pelayanan yang bersifat personal atau sebagai alternatif. Disamping itu Woodworth juga berpendapat bahwa psikolog klinis di masa depan harus berusaha untuk memberikan bantuan kepada individu dalam menyelesaikan masalah seleksi untuk keperluan pendidikan dan pekerjaan, penyesuaian keluarga dan social, kondisi-kondisi kerja, dan aspek kehidupan lainnya.
Yang sering menjadi pegangan dan acuan dasar dalam memahami pengertian psikologi klinis saat ini adalah definisi yang ditetapkan oleh American Psychological Association (APA) yang merumuskan psikologi klinis sebagai berikut: Psikologi Klinis adalah suatu wujud psikologi terapan yang bermaksud memahami kapasitas perilaku dan karakteristika individu yang dilaksanakan melalui metode pengukuran, analisis, serta pemberian saran dan rekomendasi, agar individu mampu melakukan penyesuaian diri secara patut.

B. Asesmen Psikologi Klinis
Asesmen klinis adalah proses yang digunakan psikolog klinis untuk mengamati dan mengevaluasi masalah social dan psikologis klien, baik menyangkut keterbatasan maupun kapabilitasnya. Sebagai prasyarat bagi terapi, asesmen klinis menyediakan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan kunci, seperti menyangkut kelemahan klien dan akibat-akibaynya, defisiensi dan gangguan apa yang terjadi pada pemfungsian klien atau lingkungan sosialnya untuk mengelola masalah dan atau mengembangkan kecenderungan positifnya, serta intervensi apa yang terbaik digunakan untuk dapat memenuhi kebutuhan klien.
Asesmen juga memberikan kontribusi terhadap riset klinis, antara lain dengan menyediakan landasan ilmiah untuk mengevaluasi terapi dan membangun teori-teori pemfungsian dan disfungsi manusia. Asesmen klinis sering pula diartikan sebagai psikodiagnostik, yaitu upaya untuk memahami sumber sumber penyakit melalui gejala-gejala sakit atau maladaptif dan kemudian memasukkannya ke dalam kelompok jenis gangguan yang baku atau telah dibakukan.
Terdapat banyak kemungkinan sasaran atau target yang diusahakan dalam membuat asesmen klinis. Psikolog klinis dapat memusatkan perhatian terhadap 1) disfungsi (psikologis) individual, memperhatikan abnormalitas atau kekurangan dalam aspek pikiran, emosi, atau tindakannya. Dalam kasus-kasus lain, bisa jadi mereka memusatkan perhatian untuk menemukan 2) kekuatan klien, dalam hal kemampuan, keterampilan, atau sensitivitas yang menjadi target evaluasi, dan melukiskan 3) kepribadian subyek.
Beberapa metode asesmen dalam psikologi klinis diantaranya:
1. Wawancara
a. Wawancara mengenai status mental
b. Wawancara sosial-klinis
c. Wawancara yang difraksikan
d. Wawancara terstruktur
2. Tes terstruktur
Tes ini meminta subyek untuk menjawab pertanyaan secara tegas, tidak samar-samar, ya atau tidak, dan maknanya uniform, serta merespon pertanyaan dengan cara yang terbatas. Tes terstruktur membutuhkan standarisasi yang hati-hati dan norma yang representatif.
3. Tes tak terstruktur
Adalah tes yang memberikan pertanyaan kepada klien dengan cara menjawab yang memberikan keleluasaan lebih besar, misalnya Thematic Apperception Test (TAT) atau Rorschah Inkblot-tes.
4. Asesmen-asesmen perilaku
Observasi ini merupakan observasi sistematik yang dilakukan dalam laboratorium, di klinik, kelas ataupun dalam perilaku sehari-hari.
5. Kunjungan rumah
Kunjungan rumah dimaksudkan untuk memahami kahidupan alamiah klien di rumah dan keadaan serta pola kehidupan keluarga klien.
6. Catatan kehidupan
Psikolog sering tertarik untuk mempelajari riwayat hidup klien, karena riwayat itu dapat mendasari permasalahan yang dialaminya saat ini.
7. Dokumen Pribadi
Catatan atau dokumen pribadi penting untuk mengetahui motif utama klien, maupun hal-hal yang disembunyikan, penyangkalan, hambatan, dan kesulitan klien dalam membicarakan permasalahannya.
8. Pemfungsian psikofisiologis
Hubungan psikis-mental dan faal organ tubuh sangatlah erat. Tekanan darah, misalnya, sering berhubungan dengan adanya kecemasan dan juga merupakan reaksi atas tekanan-tekanan psikologis.

C. Intervensi Klinis
Intervensi dalam rangka psikologi dan khususnya psikologi klinis adalah membantu klien atau pasien menyelesaikan masalah psikologis, terutama sisi emosionalnya. Kendall dan Norton Ford berpendapat bahwa intervensi klinis meliputi penggunaan prinsip-prinsip psikologi untuk menolong orang menangani masalah-masalah dan mengembangkan kehidupannya yang memuaskan. Psikolog klinis menggunakan pengetahuannya mengenai pemfungsian manusia dan system-sistem sosial dalam kombinasi dengan hasil asesmen klinis guna merumuskan cara untuk membantu perubahan klien ke arah yang lebih baik.
Istilah intervensi khusus untuk psikologi adalah psikoterapi. Pada umumnya terapi menampilkan empat gambaran kegiatan, yaitu: (1) membangun hubungan murni antara terapis dan klien, (2) membantu klien melakukan eksplorasi diri dengan cara-cara psikologis, (3) terapis dan klien bekerja sama memecahkan masalah psikologis klien, (4) terapis membangun sikap dan mengajarkan ketarmpilan kepada klien.

DAFTAR PUSTAKA

Baihaqi, MIF dkk. Psikiatri(Konsep Dasar Dan Gangguan-gangguan), Bandung: PT. Refika Aditama, 2005

Flanagen, Robb. ADHD Kids, Jakarta: Prestasi Pustaka, 2005

Tristiadi Ardi Ardani, dkk. Psikologi Klinis, Yogyakarta: Graha Ilmu, 2007.

Wiramihardja, Sutardo. Pengatntar Psikologi Klinis, Bandung: PT. Refika Aditama, 2006

Rabu, 10 Maret 2010

TEORI MEDAN (KURT LEWIN)

BAB I
PENDAHULUAN

Kurt lewin lahir pada tanggal 9 September, 1890 di suatu desa kecil di Prusia, daerah Posen. Ia adalah anak kedua dari empat bersaudara, keluarganya memiliki dan mengelola suatu took serba ada. Lewin menyelesaikan sekolah menengahnya di Berlin kemudian ia masuk Universitas Freiburg dengan maksud belajar ilmu kedokteran, tetapi ia segera melepaskan idenya ini, dan setelah satu semester belajar di Universitas Munich, ia kembali ke Berlin pada tahun 1910 untuk belajar psikologi pada Universitas Berlin. Setelah meraih gelar doctor pada tahun 1914, Lewin bertugas di ketentaraan Jerman selama 4 tahun sebagai prajurit infantry, yang naik pangkat dari prajurit biasa menjadi letnan. Pada akhir perang, ia kembali ke Universitas Berlin sebagai instruktur dan asisten penelitian pada Lembaga Psikologi. Max Wertheimer dan Wolfgang Kohler, dua dari tiga pendiri psikologi Gestalt, pada waktu itu ada juga di Universitas Berlin. Pada Tahun 1926, Lewin diangkat menjadi profesor. Ketika berada di Universitas Berlin, Lewin dan para mahasiswanya menerbitkan serangkaian makalah eksperimental dan teoritis yang gemilang.
Max Wertheimer, Wolfgang Kohler, Kurt Koffka, dan ahli psikologi lainnya mengadopsi konsep pengaruh medan dalam ilmu fisika dan kimia ke dalam psikologi Gestalt. Sedangkan adopsi teori medan dalam psikologi kepribadian dilakukan oleh Kurt Lewin yang memakai asumsi gestalt:
1. Dasar pemahaman psikologi bukan elemen (gambaran rincian jiwa) tetapi saling hubungan, pola atau konfigurasi. Elemen digambarkan untuk memahami saling hubungannya, bukan ujud dan ukurannya.
2. Beberapa saling hubungan menjadi dasar dari saling hubungan yang lain, sehingga dapat dideskripsikan kecenderungan kepribadian bergerak menuju kesatuan gestalt.
3. Psikologi seharusnya difahami dalam bentuk teori medan (field theory), di mana “field” adalah system pengaturan diri yang ditentukan oleh saling hubungan antar bagian-bagian dari unsur yang mendukung system itu.




BAB II
PEMBAHASAN

A. SRUTUR KEPRIBADIAN
Lewin menggambarkan manusia sebagai pribadi yang berada dalam lingkungan psikologis, dengan ruang hidup yang disebut topologi. Fokusnya adalah saling hubungan antara segala sesuatu di dalam jiwa manusia, hubungan antara bagian dengan bagian dan antara bagian dengan keseluruhan.


 Ruang Hidup
Adalah keseluruhan kumpulan fakta yang ada pada suatu saat, yang mempengaruhi/menentukan tingkah laku. Mencakup persepsi orang tentang dirinya sendiri dalam lingkungan fisik dan sosialnya saat itu, keinginan, kemauan, tujuan-tujuan, ingatan tentang masa lalu, imajinasinya mengenai masa depan, perasaan-perasaannya, dan sebagainya. Jadi ruang hidup merupakan gabungan antara daerah pribadi dan daerah lingkungan psikologis.
 Daerah Pribadi
Adalah kesatuan yang terpisah dari hal lain di dunia tetapi tetap menjadi bagian dari dunia. Daerah pribadi terdiri dari dua bagian besar, daerah persepsi-motorik dan daerah pribadi-dalam:
1. Daerah persepsi motorik: menjadi daerah yang menghubungkan pribadi-dalam dengan lingkungan psikologis. Pribadi-dalam mempengaruhi tingkahlaku melalui fungsi motorik, sebaliknya lingkungan psikologis mempengaruhi pribadi-dalam melalui persepsi.
2. Daerah pribadi-dalam: berisi aspek-aspek motivasional. Aspek-aspek motivasional di dalam pribadi dalam, digambarkan dalam pecahan-pecahan daerah, disebut sel.
3. Sel: Jumlah dan posisinya setiap saat bias berubah-ubah tergantung kepada tujuan,keinginan, kebutuhan dan motivasi yang muncul pada saat itu.
 Daerah lingkungan Psikologis
Seperti daerah pribadi-dalam, daerah lingkungan psikologis dibagi-bagi dalam pecahan-pecahan, disebut region.
1. Region: semua stimulus yang ditangkap oleh persepsi dan kemudian mempengaruhi atau menjadi bagian yang menyibukkan fungsi kognitif manusia.
2. Bondaris: semua batas antar sel, antar region atau antar daerah lingkungan psikologis dengan daerah persepsi-motorik dan antara daerah persepsi motorik dengan daerah pribadi dalam. Bondaris ini dapat bersifat permeable artinya dua daerah yang dibatasi garis itu saling mempengaruhi, dan tak-permeabel yaitu sifat yang saling independent atau tidak saling mempengaruhi.
 Lingkungan Non-Psikologis
Yaitu apa saja yang ada tetapi tidak menjadi stimulus bagi diri seseorang, bias berupa benda/obyek, fakta-fakta atau situasi sosial. Disebut juga daerah kulit asing.

B. DINAMIKA KEPRIBADIAN
 Enerji, Tegangan, dan Kebutuhan
Enerji: muncul dari perbedaan tegangan antar sel atau antar region.
Tegangan: muncul akibat adanya kebutuhan.
Kebutuhan: mencakup pengertian motif, keinginan dan dorongan.
 Tindakan
Valensi: nilai region dari lingkungan psikologis pribadi. Valensi positif berisi obyek tujuan yang dapat mengurangi tegangan pribadi, misalnya bagi orang lapar region yang berisi makanan mempunyai valensi positif, begitupun sebaliknya.
Vektor: kekuatan yang mendorong gerak seseorang atau tingkah laku, cenderung membuatnya bergerak ke arah tertentu.
Lokomosi: perpindahan lingkaran pribadi. Lokomosi bisa berupa gerak fisik, atau perubahan fokus perhatian. Dalam kenyataan sebagian besar lokomosi yang sangat menarik psikolog berhubungan dengan perubahan fokus persepsi dan proses atensi.
 Event
Adalah hasil interaksi antara dua atau lebih fakta baik di daerah pribadi maupun di daerah lingkungan. Ada tiga prinsip yang menjadi prasyarat terjadinya suatu peristiwa; keterhubungan, kenyataan, dan kekinian.
 Konflik
Situasi di mana seseorang menerima kekuatan-kekuatan yang sama besar tetapi arahnya berlawanan.
Konflik Tipe 1: kalau hanya ada dua kekuatan berlawanan yang mengenai individu.
Konflik tipe 2: konflik yang kompleks bisa melibatkan lebih dari dua kekuatan.
Konflik tipe 3: konflik yang terbuka dengan ditandai sikap kemarahan, agresi, pemberontakan, atau sebaliknya penyerahan diri yang neurotik.
 Tingkat Realita
Konsep tingkat realita dari Lewin mengemukakan; realita berisi lokomosi actual, dan tak-realita berisi lokomosi imajinasi.
 Menstruktur Lingkungan
Oleh karena lingkungan psikologi mudah berubahah maka sifat dinamik dari gambaran kepribadian adalah dengan menstruktur lingkungan. Jadi untuk menggambarkan tingkah laku seseorang dalam satu hari saja mungkin dibutuhkan banyak gambaran beratus-ratus diagram.
 Mempertahankan Keseimbangan
Dalam system reduksi tegangan, tujuan dari proses psikologis adalah mempertahankan pribadi dalam keadaan seimbang. Menjadi seimbang bukan berarti hilangnya tegangan, tetapi memperoleh keseimbangan dari tegangan internal. Misalnya marah yang tidak dapat diekspresikan, diganti dengan kepuasan menghabiskan enerji fisik dengan kerja keras atau berolah raga.


C. PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN
 Perubahan Tingkah laku
Merupakan variasi aktivitas, emosi, kebutuhan, hubungan sosial, dan sebagainya semakin banyak ketika orang menjadi semakin tambah usia. Tingkah laku itu menjadi semakin terorganisir, hirarkis, relistis, dan efektif
Organisasi: bertambahnya usia membuat orang semakin sadar pentingnya pengorganisasian. Yaitu berbuat sesuai dengan situasi yang terjadi.
Hirarkis: individu bertingkah laku itu melalui tahap-tahap perkembangan secara hirarkis.
Relistis: kemampuan untuk membedakan relitas dengan fantasi lebih meningkat seiring perkembangan usia.
Efektif: orang berusaha untuk memperoleh hasil maksimal dengan usaha yang minimal.
 Diferensiasi dan Integrasi
Diferensiasi: adalah peningkatan jumlah bagian-bagian dari keseluruhan atau peningkatan variasi tingkah laku, kebebasan bergerak yang dihubungkan dengan kemampuan untuk mengerjakan hal yang berbeda-beda.
Integrasi: koordinasi tingkahlaku untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi.
 Regresi
Adalah gerak mundur dalam proses perkembangan. Lewin menemukan dalam 2 macam:
Retrograsi: kembali ke bentuk tingkah laku lebih awal dalam sejarah kehidupan manusia.
Regresi: kembali ke bentuk tingkah laku yang lebih primitif, tidak peduli apakah pribadi pernag menlakukan hal itu.





DAFTAR PUSTAKA


Alwisol. Psikologi Kepribadian. Malang: UMM Press, 2005.

Hall, Calvin S. Teori-Teori Holistik (Organismik Fenomenologis). Yogyakarta: Kanisius, 1993.

Suryabrata, Sumadi. Psikologi Kepribadian. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1982.

Senin, 08 Maret 2010

Studi Kasus Psikologi Remaja

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Masa remaja adalah masa yang banyak mengalami perubahan untuk mempersiapkan segala tuntutan yang akan dihadapi di masa dewasa. Sejalan dengan hal itu, masa remaja merupakan masa yang paling rawan dalam pergaulan di mana emosi pada masa ini masih sangat labil. Para remaja mengalami penuh gejolak emosi dan tekanan jiwa sehingga mudah menyimpang dari aturan dan norma-norma sosial yang berlaku di kalangan masyarakat yang pada akhirnya akan menimbulkan permasalahan bagi mereka sendiri dan orang-orang yang berada dekat dengan lingkungan hidupnya.
Dalam keadaan ini kadang orang tua merasa jengkel, marah atau berputus asa, bingung dan bertanya-tanya tanpa tahu sebabnya sehingga remaja melepaskan diri dari orang tua dan mengakibatkan merenggangnya hubungan antara orang tua dengan remaja tersebut. Keadaan yang tidak harmonis tersebut juga sering mengakibatkan remaja bersikap menolak perintah, harapan, anjuran maupun keinginan orang tua atau gurunya.
Karena di rumah remaja itu tidak dimengerti oleh orang tuanya maka pelarian remaja dalam kehidupan sosialnya akan tertarik kepada kelompok teman sebayanya. Ia bergabung dengan kelompok sebayanya yang mau menganggap, mau mengerti, apalagi dalam pengalaman yang sama. Di dalam kelompok itu remaja dapat memenuhi kebutuhannya dalam mencari pengalaman baru, kebutuhan berprestasi, kebutuhan diterima statusnya, kebutuhan harga diri, juga kebutuhan rasa aman yang tidak diperoleh di lingkungan rumahnya.
Dalam makalah ini, kami mengadakan penelitian terhadap beberapa orang remaja yang aktif mengikuti kegiatan di satu organisasi ekstra sekolahnya yaitu PASMUGADA (Pecinta Alam SMU Tiga Sidoarjo). Namun di sisi lain kegiatan mereka ditentang oleh orang tua yang menganggap mereka terlalu berlebihan sehingga selalu menimbulkan konflik di antara keduanya. Penelitian ini kami lakukan dengan cara beromunikasi secara langsung dengan remaja yang bersangkutan yang kemudian kami mencoba memberi saran-saran kepada mereka sebagai penanganan terhadap masalah mereka.

1.2 Teori
Sebelum memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai permasalah yang sedang dihadapi remaja, kami akan memberikan sedikit tinjauan teori-teori dalam proses perkembangan remaja. Di sini ada beberapa sifat yang menonjol pada proses perkembangan masa ini antara lain adalah:
a. Pendapat lama ditinggalkan
Mereka ingin menyusun pendirian yang baru. Pada saat-saat mencari kebenaran itu segala sesuatunya berubah menjadi tidak berketentuan.
b. Keseimbangan jiwanya terganggu
Mereka suka menentang tradisi, mengira mereka sanggup menentukan pendapatnya tentang segala masalah kehidupan. Mereka menggunakan pendiriannya sendiri sebagai pedoman hidupnya. Karena itu sikap dan perbuatannya serba tidak tenang.
c. Suka menyembunyikan isi hati
Remaja suka menjadi teka-teki, karena sukar diselami jiwanya. Baik perbuatan maupun tindakannya tidak dapat dijadikan pedoman untuk menentukan corak kejiwaannya. Sebentar ia bertindak kasar, kemudian ia tampak lemah-lembut, kadang-kadang ia suka melamun, kemudian ia tampak giat dan kembali gembira.
d. Masa bangunnya perasaan kemasyarakatan
Pada masa ini sudah mulai terjalin persahabatan karena dorongan bersatu dengan teman sebaya semakin bertambah kuat, tetapi sikapnya masih menentang kewibawaan orang dewasa. Mereka mendirikan perkumpulan, mereka susun sendiri peraturannya, mereka memilih ketuanya, tetapi umur perkumpulan itu biasanya tidak tahan lama.
Sedangkan beberapa ciri lain dari masa ini diungkapkan oleh Dra. Ny. Y.Singgih D. Gunarsa dan Dr. Singgih D. Gunarsah dalam bukunya yang berjudul Psikologi Remaja yaitu:
1. Pertentangan: Pertentangan-pertentangan yang terjadi di dalam diri mereka sendiri juga menimbulkan kebingungan baik bagi mereka sendiri maupun orang lain. Pada umumnya timbul perselisihan dan pertentangan pendapat dan pandangan antara si remaja dan orang tua, selanjutnya pertentangan ini menyebabkan timbulnya keinginan yang hebat untuk melepaskan diri dari orang tua.
2. Berkeinginan besar mencoba segala hal yang belum diketahuinya. Mereka ingin mengetaui macam-macam hal melalui usaha-usaha yang dilakukan dalam berbagai bidang.
3. Keinginan menjelajah ke alam sekitar pada remaja lebih luas. Bukan hanya lingkungan dekatnya saja yang ingin diselidiki, bahkan lingkungan yang lebih luas lagi.



BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Permasalahan
Pada penelitian yang kami lakukan terhadap beberapa orang remaja dalam sebuah organisasi yang kebanyakan dari mereka memiliki kendala yang sama untuk aktif dalam organisasi mereka yaitu orang tua. Ditinjau dari teori diatas usia mereka merupakan usia dimana terdapat keinginan untuk mencoba hal-hal yang belum ia ketahui sebelumnya, mereka ingin menjelajah ke alam yang lebih luas oleh karena itu mereka memilih mengikuti organisasi yang dianggap penuh dengan petualangan untuk menjelajah alam lebih jauh.
Namun kegiatan mereka ditentang oleh orang tuanya yang dianggap terlalu ekstrim dan membahayakan anaknya. Kegiatan itu dianggap tidak ada hubungannya dengan intra sekolah bahkan akan dapat mengganngu prestasi mereka dalam mata pelajaran yang seharusnya menjadi tujuan utama mereka pergi ke sekolah, karena para remaja itu sering terlambat pulang sekolah hanya untuk nongkrong dan menjaga sekretariat mereka.
Para remaja itu mengatakan sering dimarahi orang tuanya setiap terlambat pulang sekolah tanpa menanyakan mengapa mereka terlambat pulang dan apa saja yang mereka lakukan setelah jam pulang sekolah sampai mereka baru bisa pulang ke rumah jam sekian. Mereka kesal dengan sikap orang tua mereka yang dirasa masih menganggap mereka seperti anak kecil yang masih harus diatur, sehingga mereka malah melawan orang tuanya dengan kata-kata yang bernada keras untuk membela diri.
Pada akhirnya mereka merasa kesulitan mendapatkan surat ijin orang tua untuk mengikuti kegiatan organisasinya di luar sekolah yang bersifat menjelajah alam. Padahal mereka sangat ingin sekali mengikuti kegiatan-kegiatan tersebut untuk memenuhi kepuasan mereka untuk mencari pengalaman yang belum mereka temukan sebelumnya. Orang tua mereka merasa khawatir akan keselamatan anaknya di luar pengawasan mereka, sehingga remaja tersebut merasa diperlakukan seperti anak kecil lagi padahal mereka merasa dirinya sudah dewasa dan ingin belajar hidup madiri tanpa bantuan orang tua. Dengan banyaknya konflik antara remaja dan orang tuanya, maka mereka memisahkan diri dari orang tuanya dan memilih melibatkan diri pada kelompok organisasinya.

2.2 Penanganan
Dalam memberikan solusi, pertama kali kami memberikan persetujuan terhadap keinginan mereka untuk mengikuti kegiatan organisasi tersebut. Harusnya orang tua bisa memahami keinginan remaja tersebut seiring dengan beranjaknya usia mereka yang bukan anak kecil lagi yang masih harus diatur oleh orang tuanya dalam segala hal. Mereka ingin mencari perhatian dari lingkungannya dengan berusaha mendapatkan status dan peranan untuk bisa terlibat dalam kegiatan-kegiatan kelompok sebaya mereka. Di samping itu mereka juga ingin mencari pengalaman-pengalaman baru yang belum mereka temukan pada masa sebelumnya.
Untuk pendapat yang kedua kami memberikan persetujuan terhadap orang tua mereka yang mengkhawatirkan anaknya karena setua apapun dan sebesar apapun ukuran anaknya, sampai kapanpun yang namanya orang tua akan selalu mengkhawatirkan keadaan anak mereka. Untuk memberikan jalan tengahnya kepada remaja tersebut disamping memenuhi keinginannya, mereka juga tidak boleh melupakan harapan orang tuanya tentang tujuan utama mereka disekolahkan.
Untuk masalah pulang sekolah yang selalu terlambat sebaiknya diadakan jadwal piket bergantian untuk menjaga sekretariat. Sedangkan untuk masalah tujuan utama mereka ke sekolah, mereka harus dapat menunjukkan nilai plus kepada orang tua bahwa dengan mengikuti kegiatan ekstra tidak akan mengganggu kegiatan intra mereka atau bahkan dengan mengikuti kegiatan ekstra tersebut akan menumbuhkan semangat untuk meraih prestasi-prestasi baik ekstra maupun intra. Sedangkan mengenai kegiatan di luar sekolah yang bersifat penjelajahan alam, mereka harus bisa memberikan pengertian kepada orang tua mereka secara baik-baik bahwa di sana mereka dalam pengawasan dan penjagaan senior-senior yang sudah berpengalaman dan kalau perlu seniornya sendiri yang datang ke rumahnya untuk mengijinkannya kepada orang tuanya. Dengan demikian mereka mungkin akan mudah mendapatkan ijin untuk mengikuti kegiatan berikutnya.

2.3 Hasil
Dari beberapa solusi yang kami berikan terdapat beberapa perubahan terhadap hubungan antara remaja dan orang tua mereka. Dengan diadakannya jadwal piket untuk menjaga sekretariat para remaja tidak lagi terlalu sering pulang terlambat, mereka hanya seminggu sekali mendapat bagian piket menjaga sekretariat dan itupun mereka jelaskan baik-baik kepada orang tua mereka sehingga orang tua mereka tau dan mau mengerti.
Mengenai prestasi belajar, para remaja berusaha membagi waktu mereka di rumah untuk belajar. Sedangkan prestasi di dalam kegiatan ekstra sekolah, mereka sering mengikuti lomba-lomba yang berhubungan dengan organisasi mereka meskipun mereka masih mengalami kegagalan di awal mereka mengikuti perlombaan. Untuk perlombaan berikutnya mereka ingin menunjukkan yang terbaik untuk organisasi mereka dan juga orang tua serta guru-guru mereka.
Dan yang terakhir mengenai masalah ijin kegiatan di luar sekolah setelah para seniornya yang memintakan ijin kepada orang tua mereka akhirnya orang tua pun tidak khawatir lagi dan mempercayakan kegiatan anak mereka kepada para seniornya dan juga guru pembimbing yang kadang-kadang ikut juga. Sekarang hubungan antar remaja dan orang tua mereka menjadi sedikit lebih harmonis daripada sebelumnya, mereka juga berusaha mempertahankan hubungan ini agar dapat lebih harmonis lagi dengan berbuat baik kepada orang tua mereka, mendengarkan kata-kata mereka, serta membantu pekerjaan mereka di rumah.



BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Masa remaja merupakan masa yang paling rawan dalam pergaulan di mana emosi pada masa ini masih sangat labil. Para remaja mengalami penuh gejolak emosi dan tekanan jiwa sehingga mudah menyimpang dari aturan dan norma-norma sosial yang berlaku di kalangan masyarakat. Dalam keadaan ini kadang orang tua merasa jengkel, marah atau berputus asa, bingung dan bertanya-tanya tanpa tahu sebabnya sehingga remaja melepaskan diri dari orang tua dan mengakibatkan merenggangnya hubungan antara orang tua dengan remaja tersebut. Jika di rumah remaja itu tidak dimengerti oleh orang tuanya maka pelarian remaja dalam kehidupan sosialnya akan tertarik kepada kelompok teman sebayanya hal ini juga sejalan dengan teori-teori yang ada dalam ilmu psikologi perkembangan remaja.
Berkenaan dengan masalah itu maka tugas perkembangan sangat berperan untuk menangani masalah mereka sehingga mereka melewati masa itu dengan baik serta siap untuk menuju ke perkembangan yang berikutnya. Tugas-tugas perkembangan itu antara lain:
o Bergaul dengan teman sebaya dari kedua jenis kelamin
o Mencapai peranan sosial di lingkungannya
o Mengembangkan sikap positif terhadap keluarga
o Menyeimbangkan pertentangan-pertentangan jiwanya
o Menyelesaikan permasalahan yang sedang dihadapi
Jadi di samping remaja tersebut melibatkan peran social dengan mengikuti organisasi, mereka juga tidak boleh mengabaikan tugas dan kewajiban terhadap orang tua mereka di rumah. Mereka harus memberikan sikap positif terhadap orang tua mereka untuk mempererat hubungan diantara keduanya serta agar para orang tua mau mengerti apa yang diinginkan anaknya yakni keinginan untuk belajar hidup mandiri.




DAFTAR PUSTAKA

Gunarsa, Singgih D. Psikolog Remaja. Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia, 2003.

Zulkifli, Drs. Psikologi Perkembangan. Bandung, PT Remaja Rosdakarya. 2002.