Senin, 27 Juli 2009

KOMITMEN ORGANISASI

A. Teori Konseptual

1. Definisi
Pengertian komitmen terhadap organisasi (organizational commitment) banyak dikemukakan oleh para ahli. Steers menjelaskan bahwa komitmen terhadap organisasi merupakan peristiwa ketertarikan individu terhadap tujuan, nilai-nilai dan sasaran organisasi. Dari pengertian ini dapat diketahui bahwa dalam komitmen organisasi terdapat kesamaan/kongruennya tujuan, nilai-nilai, dan sasaran antara apa yang ada dalam diri individu dengan organisasi, yang kemudian menimbulkan rasa ketertarikan individu untuk bergabung dalam organisasi.
Ahli lain yaitu Schermerhorn dkk. (dikutip dalam Ino Yuwono) menyatakan bahwa komitmen terhadap organisasi merupakan derajat kekuatan perasaan seseorang dalam mengidentifikasikan dirinya dan merasakan dirinya sebagai bagian dari organisasi. Dalam pengertian ini, komitmen organisasi didefinisikan sebagai derajat identifikasi hubungan individu sebagai bagian dari organisasi dimana ia bekerja.
Pendapat lain dikemukakan oleh Amstrong yang menyatakan bahwa pengertian komitmen mempunyai tiga area perasaan atau perilaku terkait dengan perusahaan tempat seseorang bekerja:
1. Kepercayaan, pada area ini seseorang melakukan penerimaan bahwa organisasi tempat bekerja atau tujuan-tujuan organisasi didalamnya merupakan sebuah nilai yang diyakini kebenarannya.
2. Keinginan untuk bekerja atau berusaha di dalam organisasi sebagai kontrak hidupnya. Pada konteks ini orang akan memberikan waktu, kesempatan dan kegiatan pribadinya untuk bekerja di organisasi atau dikorbankan ke organisasi tanpa mengharapkan imbalan personal.
3. Keinginan untuk bertahan dan menjadi bagian dari organisasi.
Senada dengan Amstrong, Porter dan Smith juga mendefinisikan komitmen pada organisasi sebagai hubungan seorang individu dengan organisasi yang memungkinkan seseorang yang mempunyai komitmen yang tinggi memperlihatkan:
1. Keinginan yang kuat untuk tetap menjadi anggota organisasi yang bersangkutan
2. Kesediaan untuk berusaha sebaik mungkin demi kepentingan organisasi tersebut
3. Kepercayaan dan penerimaan yang kuat terhadap nilai-nilai dan tujuan organisasi.
Berdasarkan kedua definisi terakhir di atas dapat disimpulkan bahwa komitmen organisasi bukan hanya sekedar keinginan menjadi anggota saja, melainkan lebih dari itu orang akan berusaha sebaik mungkin demi kepentingan organisasi yang ditandai dengan bentuk loyalitas dan identifikasi diri terhadap organisasi.

2. Komponen-komponen komitmen organisasi
Komponen-komponen komitmen organisasi dapat dijelaskan melalui beberapa pnedekatan. Masing-masing pendekatan didasarkan pada asumsi yang berbeda-beda. Menurut Shepperd dan Matew terdapat empat pendekatan komitmen organisasi yaitu:

1) Pendekatan komitmen organisasi berdasarkan sikap (attitudinal approach)
Menurut pendekatan sikap, komitmen organisasi mengarah pada permasalahan keterlibatan dan loyalitas. Mowday dan Potter (dalam Ino Yuwono) menyatakan komitmen adalah identifikasi yang relatif kuat serta keterlibatan dari individu terhadap organisasi tertentu. Terdapat tiga aspek yang tercakup di dalamnya yaitu:
a. Keinginan kuat untuk tetap menjadi anggota organisasi
b. Keyakinan kuat dan penerimaan terhadap nilai-nilai serta tujuan dari organisasi
c. Penerimaan untuk melaksanakan usaha-usaha sesuai dengan organisasi.
Sedangkan menurut Steers (dalam Ino Yuwono) komitmen organisasi adalah kekuatan relatif dari identifikasi individu untuk terlibat dalam organisasi tertentu. Komitmen organisasi ditandai oleh:
a. Adanya keyakinan kuat dan penerimaan terhadap tujuan serta nilai-nilai organisasi
b. Adanya keinginan untuk mengerahkan usaha bagi organisasi
c. Adanya keinginan untuk mepertahankan keanggotaan di organisasi tersebut.
Sementara itu menurut Kuncoro (dalam Ino Yuwono), terdapat 2 (dua) komponen dalam komitmen organisasi yaitu sikap dan kehendak untuk bertingkah laku.
1. Komponen sikap meliputi:
a. Identifikasi dengan organisasi yaitu penerimaan tujuan organisasi, dimana penerimaan ini merupakan dasar komitmen organisasi. Identifikasi karyawan tampak melalui sikap menyetujui kebijaksanaan organisasi, kesamaan nilai pribadi dan nilai-nilai organisasi, rasa kebanggan menjadi bagian dari organisasi.
b. Keterlibatan sesuai peran dan tanggung jawab pekerjaan di organisasi tersebut. Karyawan yang memiliki komitmen tinggi akan menerima hampir semua tugas dan tanggung jawab pekerjaan yang diberikan padanya.
c. Kehangatan, afeksi dan loyalitas terhadap organisasi merupakan evaluasi terhadap komitmen serta adanya ikatan emosional dan keterkaitan antara organisasi dan karyawan. Karyawan dengan komitmen tinggi merasakan adanya loyalitas dan rasa memiliki terhadap organisasi.
2. Sedangkan yang termasuk komponen kehendak untuk bertingkah laku adalah:
a. Kesediaan untuk menampilkan usaha. Hal ini diwujudkan melalui kesediaan bekerja melebihi apa yang diharapkan agar organisasi dapat maju. Karyawan dengan komitmen tinggi, ikut memperhatikan nasib organisasi.
b. Keinginan tetap berada dalam organisasi. Pada karyawan yang memiliki komitmen tinggi, hanya sedikit alasan untuk keluar dari organisasi dan berkeinginan untuk bergabung dengan organisasi yang telah dipilihnya dalam waktu lama.

2) Pendekatan komitmen organisasi multi dimensi (the multidimensional approach)
Allen dan Meyer merumuskan tiga komponen yang mempengaruhi komitmen organisasi sehingga karyawan memilih tetap atau meninggalkan organisasi berdasarkan norma yang dimilikinya. Tiga komponen tersebut adalah:
a. Affective commitment, berkaitan dengan adanya keinginan untuk terikat pada organisasi. Individu menetap dalam organisasi karena keinginannya sendiri. Kunci dari komitmen ini adalah want to.dalam tipe komitmen ini, individu merasakan adanya kesesuaian antara nilai pribadinya dan nilai-nilai organisasi.
b. Continuance commitment, merupakan suatu komitmen yang didasarkan akan kebutuhan rasional. Dengan kata lain komitmen ini terbentuk atas dasar untung rugi, dipertimbangkan atas apa yang harus dikorbankan bila akan menetap pada organisasi. Kunci dari komitmen ini adalah kebutuhan untuk bertahan (need to). Komitmen tipe ini lebih mendasarkan keterikatannya pada cost benefit analysis.
c. Normative commitment, adalah komitmen yang didasarkan pada norma yang ada dalam diri karyawan, berisi keyakinan individu akan tanggung jawab terhadap organisasi. Ia merasa harus bertahan karena loyalitas. Kunci dari komitmen ini adalah kewajiban untuk bertahan dalam organisasi (ought to). Tipe komitmen ini lebih dikarenakan nilai-nilai moral yang dimiliki karyawan secara pribadi.

3) Pendekatan komitmen organisasi normatif
Weiner menyatakan bahwa perasaan akan komitmen terhadap organisasi diawali oleh keyakinan akan identifikasi organisasi dan digeneralisasikan terhadap nilai-nilai loyalitas dan tanggung jawab.

4) Pendekatan komitmen organisasi berdasarkan perilaku
White menyatakan bahwa komitmen organisasi terdiri dari tiga area keyakinan ataupun perilaku yang ditampilkan oleh karyawan terhadap perusahaan dimana ia bekerja. Ketiga area itu adalah:
a. Keyakinan dan penerimaan terhadap organisasi, tujuan dan nilai-nilai yang ada di organisasi tersebut.
b. Adanya keinginan untuk berusaha sebaik mungkin sesuai dengan keinginan organisasi. Hal ini tercakup diantaranya menunda waktu libur untuk kepentingan organisasi dan bentuk pengorbanan yang lain tanpa mengharapkan personal gain secepatnya.
c. Keyakinan untuk mepertahankan keanggotaannya di organisasi tersebut.

B. Definisi Operasional
Komitmen organisasi adalah keinginan yang kuat untuk tetap menjadi anggota organisasi, kesediaan untuk berusaha sebaik mungkin demi kepentingan organisasi, dan kepercayaan dan penerimaan yang kuat terhadap nilai-nilai dan tujuan organisasi.


Daftar Pustaka:

As'ad, "Psikologi Industri", Yogyakarta, Liberty, 1995.

Ino Yuowono, dkk. Psikologi Industri & Organisasi, (Surabaya: Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, 2005)

Pandji Anoraga, "Psikologi Kerja", Jakarta, Rineka Cipta, 2006.

ads

0 komentar:

Posting Komentar