Sabtu, 25 April 2009

DIKTAT PSIKODIAGNISTIK

Psyche : jiwa = nyawa
Diagnosa : menentukan keadaan sekarang
Psychodiagnostik : menentukan keadaan jiwa pada saat sekarang
Di dalam clinical istilah diagnosa diikuti dengan prognosa.
DEFINISI DIAGNOSA : (DICTIONARY OF PSYCHOLOGY by CHAPLIN)
Diagnosa is determinication of the nature of an abnormality or diaseases. (menentukan ketidaknormalan atau penyakit) atau
Diagnosa is classification of an individual on the basis of a diaseases or abnormality. (pengelompokan atau mengelompokkan individu yang mempunyai dasar penyakit atau ketidaknormalan).
Dari istilah-istilah di atas terdapat cara untuk mendapatkan data diagnosis :
1. Diagnosis interview : yang mempunyai tujuan lebih lanjut untuk menentukan kemungkinan-kemungkinan yang menyebabkan timbulnya tingkah laku pada individu atau untuk menentukan kecenderungan-kecenderungan perilaku saat itu / saat konsultasi.
2. Diagnosa test : tes yang diadakan untuk mendiagnosa berbagai macam kemungkinan yang menyebabkan tingkah laku tertentu pada individu.
Prognosa : Memprediksi, memberikan ramalan untuk masa yang akan dating atau dapat juga disebut sebagai pengontrolan tingkah laku terhadap individu setelah dilakukan diagnosa.

CHAPLIN
Prognosis is prediction of the out come or diaseases (duration) or mental discovered or Prognosis is some of its expected duration severity and protest, Diagnosa, Prognosa.
Timbulnya istilah Psychodiagnostik :
Mula-mula timbul untuk memenuhi kebutuhan klinis yang bertitik tolak pada kepentingan ketidaknormalan (abnormalitas).

HERMAN RORSCHACH
Orang pertama yang memakai istilah Psikodiagnostik secara resmi, Menggunakan test proyeksi untuk mengetahui gangguan jiwa pada pasien-pasiennya, hasilnya ini dibukukan dalam psikodiagnostik. Dengan mendiagnosa dari keadaan psychis individu-individu dapat menentukan tindakan pengobatan yang tepat bagi individu.

Pengertian dalam arti sempit :
Suatu metode yang digunakan untuk menentukan gangguan-gangguan psikis pada individu dengan maksud ingin menentukan pertolongan yang mungkin dapat diberikan untuk masa-masa selanjutnya.
TEST RHO
Berkembangnya psikodiagnostik di berbagai macam bidang antara lain ingin memenuhi tuntutan the right man on the right place. Seperti manusia bisa memegang jabatan sesuai dengan kepribadiannya, begitu pula dalam bidang pendidikan, sekolah-sekolah, psikodiagnostik mempunyai peran penting.
Misal : dalam menentukan Inteligensi : kepribadian.
Bakat : penyesuaian anak.
Pada lapangan pendidikan dipegang oleh Educational Guidance. Isi diagnostic dapat juga mempunyai sifat yang vocational guidance yaitu memberikan bimbingan pada individu-individu untuk menentukan jabatan. Karena makin luas penggunaan Psikodiagnostik. Dan dituntut penggunaan secara teknik & praktis maka ada yang memberi nama Psycho Teknik, pengaruh dari perkembangan ini banyak timbul penelitian-penelitian secara ilmiah untuk menentukan valid atau tidaknya suatu tes yang ada, disamping untuk menciptakan test-test yang baru.
Di dalam bidang ; sebelum kita menentukan alat apa yang harus digunakan kita memerlukan adanya job description.
Misalnya : Untuk menerima pengurus took maka harus ada job description seperti hubungan social, IQ, ketelitian bakat, kecepatan kerja, jujur, dll, kemudian harus ada job requirement, maka baru bias menentukan alat. Alat apa yang tepat untuk situasi seperti itu.

KEGUNAAN PSIKODIAGNOSA :
1. Digunakan pada rana klinis (clinical setting)
Yaitu digunakan untuk memeriksa, meneliti potensi pada klien guna memberikan treatment yang tepat. Biasanya digunakan di rumah sakit, pusat-pusat kesehatan mental.
Focus penggunaannya pada usaha mendeteksi gangguan psikis yang dialami oleh individu, serta mengukur kemampuan / kekuatan pribadi yang dimiliki oleh individu untuk menentukan treatment yang paling tepat / efektif, karena pada prinsipnya treatment yang sama belum tentu bias diberikan pada individu yang berbeda.
2. Digunakan pada rana hukum (Legal setting)
Yaitu untuk membantu proses peradilan agar supaya permasalahan psikologis yang dialami oleh klien itu bias menjadi pertimbangan dalam pengambilan keputusan, jadi psikolog di sini berperan sebagai saksi ahli. Biasanya digunakan di peradilan, LP, tempat-tempat rehabilitasi.
3. Educational : untuk pemilihan jurusan
Vocational : untuk pekerjaan, rekruitmen.
4. Pada rana penelitian (Research setting)
Merupakan pengembangan kegunaan-kegunaan sebelumnya termasuk untuk up date alat-alat penelitian. Biasanya digunakan di perguruan tinggi.


TUJUAN PSIKODIAGNOSTIK :
Ada beberapa tujuan yang dapat dicapai dengan dilakukannya proses psikodiagnostik terhadap seseorang :
1. Memperoleh informasi yang sebanyak-banyaknya ; (dalam aspek perkembangan intelektual, kepribadian, social, emosi). Dan dapat memahami kebutuhan individu secara optimal.
2. Mengetahui kelemahan-kelemahan dan keunggulan-keunggulan agar kehidupannya dapat dimaksimalkan.
3. Pemahaman terhadap individu merupakan sarana yang baik bagi keluarga untuk memberikan perlakuan yang tepat.
4. Untuk penempatan pendidikan dan pekerjaan secara tepat.
5. Untuk kepentingan Bimbingan Konseling.
6. Sebagai bahan proses terapi bila dibutuhkan.

DALAM PSIKODIAGNOSTIK ada 2 ASPEK yaitu :
1. Aspek yang bersifat TEORITIS (pemahaman)
Yaitu : studi ilmiah tentang berbagai metode yang mempunyai maksud menentukan diagnosa psikologis supaya dapat menentukan individu secara lebih tepat dan dibina oleh lembaga-lembaga ilmiah.
2. Aspek yang bersifat PRAKTIS (aplikatif)
Yaitu : suatu pengembangan / penciptaan metode untuk membuat diagnosa psikologis dengan maksud supaya dapat memperlakukan individu secara teliti dan tepat, dibina oleh pelaksana-pelaksana praktis.
Psikodiagnostik membicarakan bermacam-macam metode yang dapat digunakan dalam lapangan psikologi untuk menentukan psychis seseorang.
Bagian praktis dan teoritis selalu berpengaruh atau mempengaruhi dalam perkembangan psikodiagnostik yang teoritis membuat penelitian apa yang diteliti timbul dari hal yang praktis. Misalnya tentang kejujuran.
Dalam garis besarnya tugas daripada Psikodiaknostik dapat disistimasikan dalam 3 hal :
1. Tahap pengumpulan data (mengumpulkan segala hasil pengungkapan psikologi yang diberikan)
2. Tahap penelitian data (pada individu yang bersangkutan. Mengolah data yang telah ada)
3. Tahap membuat kesimpulan (baik secara deskriptif maupun statistik.)
Kesimpulan ini nantinya menjadi DIAGNOSA.
Penggunaan data yang bersifat masal menggunakan statistik.
Therapy = Penyembuhan.
Di dalam membuat kesimpulan yang sifatnya sudah diagnosa, tergantung daripada tujuan daripada testing. Garis besarnya :
Klinis
Industri ditekankan pada kebutuhan individu, motivasi dapat peka.
Pendidikan ditekankan pada hal-hal yang berhubungan dengan pendidikan.
Misalnya : bakat, IQ.
Dalam Psikodiagnostik : karena termasuk individu yang kompleks maka dalam usaha menganalisa data-data psikologis harus digunakan beberapa macam metode yang memungkinkan supaya data-data psikodiagnostik yang dibutuhkan bias semaksimal mungkin terungkap.
Misalnya : pada interview, tidak mau terus terang untuk mengatasi ini digunakan test proyeksi.
Di dalam garis besarnya secara operasionil dapat digunakan bermacam-macam metode dalam mengungkapkan data-data psikologi, adapun metode-metode tersebut :
 Metode Observasi
 Metode Interview
 Metode Biografi
 Metode Pengumpulan analisa hasil karyanya dan metode test.

METODE TEST
Metode ini merupakan inti Psikodiagnostik akan banyak digunakan bermacam-macam test untuk mendiagnostik test-test atau client-client. Di dalam istilah test sudah terkandung arti pengukluran karena pada psikologi test itu merupakan pengukuran-pengukuran aspek-aspek psikis. Istilah ini mula-mula digunakan oleh CATTELL (1890), kemudian metode ini sangat popular. Tetapi walaupun demikian mengenai definisi test dalam hal ini adalah test psikologi, masih belum ada keseragaman sebab dalam test psikologi definisi adalah penting. Biasanya masa-masa ahli pengetahuan mengemukakan pendapat dengan teori yang berbeda-beda antara lain oleh :
ANNE ANNASTHASI
Bahwa test merupakan alat pengukur yang mempunyai standart yang objektif sehingga dapat digunakan secara meluas dan dapat betul-betul digunakan untuk mengukur serta membandingkan keadaan psichis / tingkah laku individu yang satu dengan yang lain.
Test adalah alat pengukur yang bersifat obyektif dan distandardnisasi terhadap tingkah laku.
L.G CHROBACH
Test adalah prosedur yang sistematis untuk membandingkan tingkah laku dari dua orang atau lebih.
GOGDENOUGH
Dalam "Mental Testi"
Test itu merupakan suatu tugas yang diberikan kepada sekelompok individu dengan maksud membandingkan kecakapan mereka yang satu terhadap yang lain.
Kesimpulan :
Test merupakan suatu tugas, baik berupa peranyaan pertanyaan yang mempunyai standart yang objektif yang harus dikerjakan oleh seorang atau sekelompok individu.
Berdasarkan hasil data test tersebut dapat digunakan untuk mengetahui keadaan jiwa psikis individu serta dapat pula untuk membandingkan keadaan psikis individu yang satu dan yang lain. Dengan sendirinya sebagai alat pengukur supaya dapat digunakan atau berfungsi dengan baik mempunya bermacam-macam syarat.
Syarat-syarat daripada test yang baik antara lain :
 Test harus VALID
 Test harus RELIABILITY
 Test harus MEMPUNYAI STANDART
 Test harus OBYEKTIF
 Test harus DISCRIMINATIVE
 Test harus mudah digunakan
 Test harus USABILITY
 Test harus COMPREHENSIVE

TEST HARUS VALID
Test tersebut harus dapat mengukur apa yang hendak diukur. Validity merupakan masalah yang pokok.
Bermacam-macam validity :
1. FACE VALIDITY
Merupakan jenis validity yang paling lemah karena test tersebut dianggap valid hanya berdasarkan tampaknya saja. Biasanya penggunaannya lebih bias dipercaya bila dipakai oleh orang yang sudah berpengalaman.
2. CONTENT VALIDITY
Test dikatakan mempunyai content validity apabila isi daripada test tersebut sudah dipandang sesuai dengan tujuan daripada test. Pada umumnya dipergunakan untuk test yang bersifat mengukur prestasi atau kecakapan yaitu mengukur kemampuan terhadap pengetahuan yang telah diberikan melalui pendidikan formil pada waktu-waktu yang lalu, misalnya : di SD dengan test berhitung.
3. LOGICAL VALIDITY
Suatu test dikatakan valid dalam hal ini apabila test tersebut isinya sesuai dengan dasar-dasar teori mengenai apa yang akan diukur. Jadi sebelum melihat atau menguji test tersebut valid atau tidak maka perlu dipahami teori tentang aspek yang akan diukur.
Misalnya : Tes proyeksi atau test kepribadian.
Ingin mengungkap pribadi seseorang, garis besar kepribadian emosi, kemasakan sosial, kreativitas, inisiatif.
4. EMPERICAL VALIDITY
Test dikatakan mempunyai empirical validity apabila ada kesesuaian antara hasil test dengan keadaan yang sebenarnya.
5. FACTORIAL VALIDITY
(hubungan dengan analisis faktor)
Test dikatakan mempunyai factorial validity apabila test tersebut disusun sedemikian rupa sehingga dapat mengungkap faktor-faktor daripada aspek psikis yang akan diukur.
Apabila test tersebut disusun sesuai dengan faktor-faktor yang terkandung dalam aspek psikis yang akan diukur.

DEFINISI INTELIGENSI oleh THURSTONE
Bahwa di dalam inteligensi mengandung faktor-faktor ingatan, kelancaran berkata-kata atau berbicara, reasoning atau penalaran, memahami ruang. Ini semua berdasarkan factorial validity.

TEST HARUS MEMPUNYAI STANDARDISASI
Yang dimaksud adalah test tersebut harus mempunyai ukuran yang tetap atau norma yang tetap baik, di dalam materi maupun administrasi.
Misal : yang berhubungan dengan materi,
- Test balok ukuran daripada balok yaaang digunakan dalam test harus sama.
- Waktu mengerjakannya pun harus sama.
- Seorang harus sama.
- Instruksi.

TEST HARUS OBJEKTIF
Di dalam standardisasi mencakup objektivitas kalau segala sesuatu di dalam test tersebut sudah diatur sedemikian rupa dimaksudkan agar orang dapat bertindak obyektif. Tttetapi yang dimaksud test harus obyektif test tidak boleh jika di dalam score terpengaruh oleh siapapun di dalam mengerjakan juga terpengaruh dalam subjektivitas di dalam dirinya.

TEST HARUS DISKRIMINATIF
Biasanya di dalam mengetest kita dapat melihat seberapa jauh test tersebut dapat mengungkap dan membedakan antara kualitas yang tinggi dan yang rendah. Tttest yang baik mempunyai diskriminatif adalah test yang mampu menunjukkan perbedaan kualitas sampai sekecil-kecilnya. Jadi test yang baik harus mempunyai daya pembeda yang teliti. Istilah kualitas sering disingkat dengan Diskrimation Power.

TEST HARUS MUDAH DIGUNAKAN
Test tersebut tidak mempunyai prosedur yang berbelit-belit yang sulit. Test yang baik adalah test yang prosedurnya mudah digunakan oleh siapa saja. Juga di dalam waktu yang tidak mengalami perbedaan. Syarat-syarat tersebut bertujuan supaya yang bersangkutan tidak terbatas pada orang yang menciptakan yang hanya beberapa orang saja.
Di dalam mencari reabilita dengan menghitung hubungan antara alat pengukur yang sama yang digunakan dalam waktu yang berlawanan.
Cara-cara menyelidiki reliabilita dibedakan menjadi 3 macam :
a. METODE TEST-RETEST
Di dalam metode ini test yang sama diberikan sekelompok individu dalam waktu yang berlainan.
Mis : 1 minggu, 2 minggu, atau beberapa hari.
Kemudian score testing I dihitung korelasinya dengan score testing II. Apabila koef.korelasinya berangka tinggi maka hal itu menunjukkan reliabilitas tersebut tinggi, demikian pula sebaliknya.
b. METODE BELAH DUA (SPLIT HALF METHOD)
Bias dilakukan pada test yang sifatnya sama, artinya membelah dua materi-materi test yang diberikan. Cara yang digunakan dalam hal ini dengan jalan mengelompokkan item-item yang bernomor dasar ganjil juga materi yang bernomor genap dijadikan satu kemudian dihitung joef.korelasinya

ALTERNATE FORM METHOD = PARALEL FORM METHOD = METODE BENTUK SEJAJAR.
Di dalam metode ini disusun 2 test yang equivalent.
Misalnya : test bentuk A & B atau test bentuk 1 & 2.
Kedua test tersebut atau kepada sekelompok individu dalam waktu dan kondisi yang sama kemudian hasil scoringnya dicari koofesien korelasinya. Kalau tinggi reabilitanya tinggi, begitu pula sebaliknya (atau diberikan).

BEBERAPA DASAR FILSAFAT DARI TEST.
Dalam hal ini akan mengarah kepada macamnya test yang berdasarkan dasar filsafatnya dan di dalam garis besarnya ada 2 macam pandangan, dan ini timbul dari dasar filsafat atau amggapan yang berbeda yang sampai sekarang hal ini masih berkembang, juga 2 bentuk test dari dasar filsafat tersebut.

1. TEST PSYCHOMETRIC
Test ini menggunakan ukuran yang eksak dan lebih objektif. Test ini timbul dari dasar pandangan yang dikemukakan oleh THORNDIKE yang intinya : "kalau sesuatu ada maka hal tersebut ada dalam suatu jumlah". Kalau ada di selama suatu jumlah tertentu maka apa yang dapat diukur itu bias diukur secara eksak dan dapat ditunjukkan dalam bentuk angka.
Menurut pandangan ini semua orang mempunyai aspek psikologi yang sama macamnya. Yang tidak sama hanya kualitasnya (jumlahnya).
Misal : semua orang memiliki intelligensi yang berbeda hanya kuantitas dari intelligensi saja. (Yang sama, yang berbeda …)
Maka dari itu di dalam mengatur aspek-aspek psikologi dari seseorang yang paling tepat dengan menunjukkan jumlah yang pasti dari pengukuran benda-benda dapat secara eksas. Dapat ditunjukkan dalam bentuk angka.
2. TEST IMPRESSIOMISTIC
Di dalam test ini banyak menggunakan hanya kesan-kesan saja, tidak digunakan hasil ukur. Di dalam menggambarkan keadaan seseorang dengan test impressiomistic biasanya dengan memberikan gambaran keadaan yang menyeluruh. Hal ini diperoleh dari orang yang di test dalam menghadapi testernya. Jadi di dalam test impressiomistic ini tidak dapat mengetahui orang tersebut menunjukkan kecakapannya atau aspek psikis yang ditunjukkannya. Dddi dalam test ini dititik beratkan pada kualitasnya.
Contoh :
TEST PROYEKSI
Apabila kita menggunakan test psychometric, digunakan daftar pertanyaan di dalam daftar pertanyaan tersebut subyek tinggal memberi tanda kepada jawaban-jawaban yang sudah disediakan & dianggap benar. Kemudian dari hasil peknya tersebut akan dapat ditemukan suatu nilai atau angka dengan menghitung angka yang benar. Di dalam test impressiomistic ini tester hanya mempersilahkan testi untuk menceritakan pengalaman yang ada.
PERBEDAAN ANTARA
PSIKOMETRIC
• Mengambil kesimpulan dari data yang ada.
• Cara pemberian tugas terikat, jadi jawaban telah disediakan, subyeknya hanya memilih.
• Banyak aturan-aturan yang mengikat.
• Dddalam hal scoring ditekankan pada hasil terakhir test.
• Tentang validitasnya, secara ilmiah betul-betul memenuhi syarat-syarat validitasnya.
IMPRESSIOMISTIC
• Mengambil kesiapan dari hal-hal yang sebelumnya test.
• Cara pemberian tugas lebih bebas daripada psikologi, artinya testi bebas mengeluarkan pendapatnya.
• Aturan-aturan yang mengikat relative sedikit.
• Ssselain hasil terakhir juga diperhatikan pula dalam proses pelaksanaan mengerjakan tugas tersebut.
• Lebih bersifat subyektif karena biasanya testi disuruh mengarang.
• Tidak menuntut validitas dan cara menentukan validitas adalah membandingkan antara tester yang satu dengan yang lain apabila ada yang sama dianggap valid.
• Membutuhkan tester yang baik dan berpengalaman serta mempunyai dasar teori yang baik.


KELEMAHAN DARI PSIKOMETRIC
Biasanya standardisasi tersebut tergantung pada kebudayaan setempat dan aspek-aspek dalam tempat tersebut sehingga apabila dipakai ditempat yang lain harus diteliti dulu tersebut. Apakah sesuai atau tidaknya dengan keadaan tersebut.
Di dalam pelaksanaannya untuk mengungkap faktor-faktor psikis sebaiknya digunakan cara gabungan antara kedua tes tersebut supaya lebih teliti.

TUJUAN MENGGUNAKAN TEST
Di gariskan oleh CRONBACH
• Menetapkan sifat-sifat orang atau kelompok individu berdasarkan standard.
• Mengadakan seleksi terutama dalam mengadakan penelitian-penelitian di dalam penempatan jabtan-jabatan yang sesuai.
• Mengadakan penentuan therapy psikis (bersifat klinis).
• Untuk mengadakan penyelidikan di bidang psikologi tertentu.

PROSES MENTAL YANG DAPAT DIUNGKAP DALAM TEST
Test adalah suatu alat untuk mengadakan pengukuran yang dapat dilanjutkan dengan penelitian.
Pengukuran : menerima apa adanya.
Penilaian : membandingkan dengan aspek-aspek yang lain.
Mengenai proses-proses mental yang dapat diukur dikemukakan oleh REMMERS & GAGE dalam bukunya EDUCATION MEASUREMENT & EVALUATION ada 6 kelompok :
• Mengukur pencapaian di dalam bidang pendidikan dan pengajaran dalam hal ini bersifat achievement yaitu : perkembangan mental yang disubyekkan oleh kemajuan-kemajuan di dalam proses belajar baik yang bersifat ilmu pengetahuan, pengalaman, serta pengetrapan ilmu-ilmu yang telah diperolehnya.
• Proses mental yang berhubungan dengan kemampuan (ability) yang bersifat umum, termasuk di dalamnya IQ juga di samping itu termasuk bakat tertentu.
• Proses mental yang ada hubungan dengan attitude (sikap) baik sikap yang bersifat individu maupun sosial.
Misal : dengan test rho
Sikap individu yang satu dengan yang lain.
• Proses sosial yang berhubungan dengan emosi dan penyesuaian sosial, misal : Seseorang di jangkiti rasa khawatir, di dalam soso adjustment terganggu.
• Untuk mengukur keadaan psikis yang berhubungan dengan latar belakang sosialnya individu yang bersangkutan. Latar belakang social yang berbeda akan menyebutkan situasi mental yang berbeda baik secara individu dan kelompok.
• Mengungkap keadaan psikis yang banyak bertalian dengan keadaan fisik dari individu atau sekelompok individu, berkaitan dengan tipologi.
FUNGSI DARI TEST MENCAKUP 3 HAL :
• Yang bersifat prediksi
• Yang bersifat diagnosa
• Yang bersifat penyandra (memberi gambaran)

ads

Ditulis Oleh : Lukman Psikologi Hari: 16.30 Kategori:

0 komentar:

Posting Komentar