Selasa, 04 Juli 2017

Cara Mendisiplinkan Siswa Untuk Mentaati Aturan



Masalah kedisiplinan siswa dalam mentaati sebuah aturan yang ada di sekolah selalu menjadi keluhan, tidak hanya dari penegak kedisiplinan sekolah dan kesiswaan, namun juga hampir semua pendidik yang ada di sebuah sekolah. Terutama jika yang melanggar kedisiplinan adalah anak tertentu dan itu-itu saja. Mereka menganggap peserta didik tersebut tidak pernah bisa “diomongi”, tidak pernah menghiraukan kata-kata guru. Jika sudah demikian guru BK menjadi senjata terakhir untuk melawan para peserta didik yang sudah punya stempel tukang melanggar tata tertib dari para pendidik. Karena masih ada beberapa sekolah yang meng-image-kan bahwa BK adalah polisi sekolah.


Masalah kediplinan siswa ini secara keilmuwan memang guru BK yang banyak memiliki ilmu untuk menanganinya, namun ilmu tersebut bukan hanya guru BK yang mampu menerapkannya, siapapun bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari baik oleh guru lebih-lebih oleh orang tua. Oleh karena itu dalam tulisan ini kami ingin berbagi sedikit pengalaman yang kami miliki dan sejauh yang pernah kami terapkan masih sangat efektif dalam membantu para siswa untuk mampu disiplin diri secara mandiri.
Menurut Wikipedia (1993) bahwa disiplin sekolah “refers to students complying with a code of behavior often known as the school rules”. Yang dimaksud dengan aturan sekolah (school rule) tersebut, seperti  aturan tentang standar berpakaian (standards of clothing), ketepatan waktu, perilaku sosial dan etika belajar/kerja. Pengertian disiplin sekolah kadangkala diterapkan pula untuk memberikan hukuman (sanksi) sebagai konsekuensi dari pelanggaran terhadap aturan, meski kadangkala menjadi kontroversi dalam menerapkan metode pendisiplinannya, sehingga terjebak dalam bentuk kesalahan perlakuan fisik (physical maltreatment) dan kesalahan perlakuan psikologis (psychological maltreatment), sebagaimana diungkapkan oleh Irwin A. Hyman dan Pamela A. Snock  dalam bukunya “Dangerous School” (1999).
Berkenaan dengan tujuan disiplin sekolah, Maman Rachman (1999) mengemukakan bahwa tujuan disiplin sekolah adalah : (1)  memberi dukungan bagi terciptanya perilaku yang tidak menyimpang, (2) mendorong siswa melakukan yang baik dan benar, (3) membantu siswa memahami dan menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungannya dan menjauhi melakukan hal-hal yang dilarang oleh sekolah, dan (4) siswa belajar hidup dengan kebiasaan-kebiasaan  yang baik dan bermanfaat baginya serta lingkungannya. 


Tips dan Trik mendisiplinkan siswa mentaati aturan secara mandiri:
1.      Klarifikasi
Sebelum melakukan klarifikasi sebaiknya kita menyiapkan diri terlebih dahulu dengan sikap yang positif, bangun rasa empati yang tinggi, dan rasa menerima siswa dengan penuh kasih sayang. Inilah kunci awal dalam keberhasilan pendidikan dan penanaman kedisiplinan siswa yang justru sering kita lupakan. Karena tidak akan pernah ada keberhasilan dalam sebuah pendidikan jika tidak dilandasi dengan kasih sayang. Hal ini dimungkinkan karena pada hakikatnya anak cenderung lebih patuh kepada pendidik yang bersikap baik dan sabar. Sebaliknya, anak akan bersikap agresif ketika sikap pendidik cenderung kasar, keras, kurang berempati, dan kurang wibawa karena yang bereaksi dalam otak anak hanyalah otak reptil yang berfungsi untuk mempertahankan diri karena merasa tidak aman dan terancam sehingga akan berdampak terhadap kegagalan penanaman kedisiplinan di sekolah.
Ketika seorang siswa melanggar sebuah aturan sekolah, mereka pasti memiliki alasan mengapa mereka melanggar aturan tersebut. Maka hal pertama yang harus kita lakukan adalah sambil tersenyum, tanyakan mengapa siswa tersebut melanggar aturan? Pahami faktor-faktor apa yang membuat mereka tidak mentaati aturan yang dibuat oleh sekolah.

2.      Cari solusi bersama siswa
Setelah faktor yang membuat siswa melanggar aturan sudah ditemukan maka langkah selanjutnya adalah mencari solusi terbaik bersama siswa. Jika faktor lingkungan yang menjadikan siswa tersebut tidak mentaati aturan maka pemecahan permasalahannya memang harus melibatkan lingkungan terkait. Karena masalah ketidakdisiplinan siswa tersebut di luar kendali siswa. Namun tidak sedikit pula siswa yang melanggar aturan dikarenakan faktor dari dalam diri sendiri. Bukankah kita juga sering mendengar jawaban para siswa kita yang mengatakan bahwa aturan itu dibuat untuk dilanggar. Benarkah demikian? Jika hal tersebut yang terjadi maka hal yang perlu dilakukan adalah bahas bersama siswa mengapa kita perlu disiplin diri.
Yang sering terjadi selama ini adalah kita sebagai guru terkesan sebagai pihak yang selalu mendominasi pembicaraan, menyudutkan siswa dengan kesalahan yang telah ia perbuat dan terkesan mendikte para siswa tentang apa yang harus mereka lakukan. Ketika ternyata siswa tersebut tidak mematuhi apa yang kita perintahkan maka akan semakin menambah rasa kesal dalam hati karena sudah capek-capek berbicara tidak sedikitpun dihiraukan oleh anak sehingga menambah sikap negatif terhadap siswa yang bersangkutan. Dan jika hal tersebut terjadi dan dialami oleh beberapa guru dan selalu menjadi topik pembicaraan baik di forum informal maupun di forum rapat, maka dengan sendirinya akan terdapat stempel pada siswa tersebut sebagai “siswa nakal”.
Pada prinsipnya usia remaja memang memiliki sifat kritis dalam memandang dan memikirkan sesuatu. Tidak jarang pula ada siswa yang terkesan agresif dan selalu bisa mengelak terhadap apa yang kita sarankan. Untuk menghadapi siswa seperti itu pasti akan menguras tenaga dan emosi kita. Maka ada langkah jitu yang bisa kita lakukan jika menghadapi tipe siswa seperti itu.
Berikan sebuah gambaran nyata apa yang terjadi jika dalam kehidupan ini tidak ada kedisiplinan. Contoh tanyakan kepada siswa tersebut apa yang terjadi jika ada pemain sepak bola yang mengambil bola dengan tangannya (bukan digiring dengan kaki) dan dibawa lari untuk dilemparkan ke gawang lawan, apa kira-kira yang akan terjadi? Jelas, siswa tersebut tidak akan mampu mengelak dari jawaban akan terjadi pelanggaran, kena kartu dari wasit, atau mungkin bahkan akan dikeroyok oleh penonton karena sudah membuat kacau pertandingan. Kenapa hal tersebut tidak boleh dilakukan oleh seorang pemain sepak bola? Dan biarkan siswa tersebut yang membuat kesimpulan sendiri apa pentingnya sebuah peraturan dalam sebuah pertandingan sepak bola?
Dan masih banyak contoh lain yang bisa kita tanyakan ke siswa kita, apa yang terjadi jika bumi ini tidak disiplin dan tidak mau lagi berputar? Atau bagaimana jika paru-paru kita malas untuk mengikuti aturan Allah, bosan menghirup oksigen dan ingin sekali-kali menghirup karbon dioksida? Dan jantung kita juga malas untuk berdetak lagi?
Demikian juga keberadaan aturan di sekolah, setiap siswa dalam mengikuti kegiatan belajar di sekolah tidak akan lepas dari berbagai peraturan dan tata tertib yang diberlakukan di sekolahnya, dan setiap siswa dituntut untuk dapat berperilaku sesuai dengan aturan dan tata tertib yang yang berlaku di sekolahnya. Sekolah membuat aturan pasti punya tujuan yang baik, diantaranya adalah agar kehidupan di sekolah menjadi tertib, teratur, dan mengefektifkan pencapaian tujuan sekolah.
Di dalam sebuah ayat di Al Qur’an disebutkan “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Rasul(Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur`an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (Qs. an-Nisâ` [4]: 59) dan didukung hadis sahih yang telah disepakati kesahihannya dari Abu Hurairah r.a. disebutkan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:Barang siapa yang taat kepadaku, berarti ia taat kepada Allah; barang siapa yang durhaka kepadaku, berarti ia durhaka kepada Allah. Dan barang siapa yang taat kepada amirku, berarti ia taat kepadaku; dan barang siapa yang durhaka terhadap amirku, berarti ia durhaka kepadaku”. Jadi jelas bahwa perintah untuk patuh terhadap aturan adalah merupakan perintah agama.

3.      Doakan 
Tidak dapat kita pungkiri pula bahwa ada kekuatan yang jauh lebih dibalik kekuatan kita, apapun yang manusia usahakan tetap Allah pula yang menentukan hasilnya. Oleh karena itu untuk mendukung usaha kita dalam mendidik para siswa agar menjadi pribadi yang berkarakter sesuai dengan cita-cita pendidikan nasional maka perlu kita iringi dengan doa. Kita doakan agar kalbu (akal dan jiwa) para siswa kita agar kaya akan kebaikan, agar mereka dijauhkan dari perbuatan-perbuatan tercela, yang bukan hanya merugikan diri sendiri, melainkan juga merugikan masyarakat luas. Bahkan, kita doakan agar mereka memiliki kehidupan yang jauh lebih baik dan menjadi pribadi yang positif.

Pada akhir tulisan ini, kami ingin sampaikan kesimpulan bahwa dalam menghadapi siswa yang melanggar kedisiplinan diperlukan kesabaran dari guru, lakukan pendisiplinan secara positif, dari hati, dan penuh kasih sayang, kalau pun harus memberi konsekuensi berikan konsekuensi yang logis dan dapat diterima oleh siswa. Dan yang tidak kalah penting adalah kekuatan dari doa kita yang akan mengubah para siswa kita menjadi pribadi yang lebih baik.

ads

Ditulis Oleh : Lukman Psikologi Hari: 20.24 Kategori:

0 komentar:

Posting Komentar