Selasa, 17 November 2009

OPERANT CONDITIONING

A. Pengertian
Operant conditioning adalah suatu usaha pengkondisian untuk menimbulkan dan mengembangkan respons sebagai usaha memperoleh “penguatan”. Dengan kata lain melalui pemberian reinforcement (penguatan) itu maka seseorang dapat mengontrol tingkah laku organisme.
Operant kondisioning meliputi proses-proses belajar yang mempergunakan otot-otot secara sadar, memberikan jawaban dengan otot-otot tersebut dan mengikutinya dengan pengulangan untuk penguatan. Walaupun demikian, perilaku tersebut masih dikendalikan faktor luar (faktor lingkungan, rangsang atau stimulus) yang mana akan sangat mempengaruhi respon-respon yang akan diperlihatkan.

B. Tujuan
1. Memanipulasi kondisi-kondisi yang mempengaruhi atau yang mengakibatkan timbulnya tingkah laku.
2. Mengidentifikasi “reinforcers” yang potensial untuk mengontrol perilaku.
3. Memperkuat tingkah laku sesuai yang diinginkan melalui penguatan.

C. Eksperiment B.F. Skinner
Teori tentang belajar atau proses kondisioning operant dikembangkan oleh Skinner (1938) dari eksperimennya dengan tikus. Tikus dilatih melalui proses kondisioning klasik untuk menekan sebuah tuas jika ia mau makanan. Jika tuas ditekan, makanan keluar dari sebuah lubang. Setelah tikus mampu menekan tuas setiap kali ia menginginkan makanan, Skinner mengkondisikannya lagi dengan lampu. Kali ini hanya jika lampu menyala, tuas itu dapat menghasilkan makanan ditekan. Kalau tidak ada lampu, tuas tidak mendatangkan apa pun, walaupun ditekan-tekan. Lama-kelamaan tikus belajar untuk menekan tuas hanya jika lampu menyala. Nyala lampu tersebut dinamakan rangsang diskriminan (pembeda), yaitu yang membedakan antara keadaan di mana ada ganjaran dan tidak ada ganjaran.

D. Asumsi
Asumsi dasar bahwa seluruh tingkah laku berjalan menurut hukum jelas mengandung implikasi kemungkinan mengontrol tingkah laku. Minat Skinner pada tingkah laku timbul tidak hanya dari rasa ingin tahu tentang cara kerja tingkah laku, tetapi juga dari keinginan kuat untuk memanipulasinya. Oleh karena itu Skinner mengadakan penelitian tentang bagaimana cara kita untuk dapat mengontrol sebuah tingkah laku pada individu.
Jika dalam kondisioning klasik reinforcement dilakukan berulang-ulang sehingga menghasilkan tingkah laku, dalam operant conditioning terjadi sebaliknya, yaitu jawaban atau tingkah laku yang menimbulkan reinforcement. Individu harus melakukan sesuatu. Dengan kata lain, individu adalah alat untuk menimbulkan penguatan. Jadi penekanan dari penelitian Skinner adalah tentang respon-respon yang tidak harus dibangkitkan oleh stimulus (operan), tetapi yang sangat dipengaruhi oleh akibat-akibat dari respon-respon itu sendiri (reinforcement).
Perbedaan lain antara proses belajar klasik dan proses belajar operant adalah adanya stimulus diskriminan yaitu yang membedakan antara kondisi di mana suatu perilaku akan berhasil secara efektif dan kondisi di mana perilaku tidak akan efektif. Asosiasi antara stimulus diskriminan dan kehadiran ganjaran negatif atau positif sangat tergantung pengalaman masa lalu orang yang bersangkutan. Dengan demikian, faktor masa lalu (antecedent) sangat penting pada teori belajar dari Skinner. Ini pun membedakannya dari Pavlov yang hanya menekankan pada hubungan sesaat antara rangsang dan reaksi perilakunya.
Dalam penelitiannya, Skinner mengemukakan tiga fungsi rangsang yang diberinya istilah:
a) Pembangkitan (elicitation).
Pembangkitan dimaksudkan untuk rangsang yang langsung menimbulkan tingkah laku balas. Misalnya makanan langsung menimbulkan air liur pada orang atau hewan yang melihatnya.
b) Diskriminasi (discrimination).
Pada rangsang diskriminasi, tingkah laku balas tidak segera timbul karena rangsang itu hanya merupakan pertanda akan datangnya rangsang pembangkit. Misalnya seseorang mendengar suara penjaja makanan. Orang yang mendengar suara itu tidak langsung mengeluarkan air liurnya. Baru setelah ia melihat makanan tersebut, keluarlah air liurnya.
c) Penguat (reinforcement).
Pada rangsang penguat, fungsi rangsang adalah untuk memperkuat atau memperlemah tingkah laku.
Dalam percoban tersebut Skinner juga membedakan adanya dua macam bentuk respon, yaitu:
1) Responden Respons (reflextive response)
Yaitu respons yang ditimbulkan perangsang-perangsang pembangkit (electing stimuli).
2) Operant Respons
Yaitu respons yang timbul dan berkembangnya diikuti perangsang-perangsang penguat (reinforcing stimuli).
Sebagai kesimpulan akhir dapat diperoleh asumsi bahwa tingkah laku seseorang dapat menimbulkan penguatan (reinforcement) di mana melalui pemberian penguatan tersebut kita dapat mengontrol atau bagaimana menimbulkan dan mengembangkan sebuah tingkah laku pada individu. Penguatan tersebut dapat berupa reward (hadiah) dan dapat pula berupa punishment (hukuman). Dengan ganjaran positif (positive reinforcement), kita akan dapat menumbuhkan dan mengembangkan suatu perilaku pada individu. Dan sebaliknya dengan ganjaran negatif (negative reinforcement), kita akan dapat menghambat suatu perilaku pada individu.

E. Implementasi dalam Proses Belajar Mengajar
Implementasi teori belajar operant dalam proses belajar mengajar adalah bahwa seorang guru dapat membentuk, mengembangkan, dan mengontrol tingkah laku / perilaku siswa menuju ke arah yang lebih positif sesuai harapan yang diinginkannya melalui reinforcement, baik yang berupa reward maupun punishment. Reward akan menunjukkan apa yang mesti dilakukan oleh murid, sedangkan punishment menunjukkan apa yang tidak boleh dilakukan murid.


DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu dan Widodo Supriyono. Psikologi Belajar, Jakarta: Rineka Cipta, 1991.

Bower, GordonH. Theories of Learning, Prentice Hall Inc, 1981.

Hall, Calvin S. Teori-Teori Sifat dan Behavioristik, Yogyakarta: Kanisius, 1993.

Morgan and Richard A. King. Introduction of Psychology, Clifford T. Library of Congress Katalog Card, 1971.

Mulyati. Psikologi Belajar, Surakarta: Andi, 2005.

Sahertan, Piet A. Aliran-Aliran Modern dalam Ilmu Jiwa, Surabaya: Usaha Nasional, 1983.

Sarwono, Sarlito W. Psikologi Sosial, Jakarta: Balai Pustaka, 1997.

Sarwono, Sarlito W. Teori-Teori Psikologi Sosial, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002.

ads

Ditulis Oleh : Lukman Psikologi Hari: 12.49 Kategori:

0 komentar:

Poskan Komentar