Sabtu, 02 Januari 2010

REMAJA PENDIAM

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Masa remaja adalah masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa. Dalam peningkatan ini remaja banyak mengalami perubahan untuk mempersiapkan segala tuntutan yang akan dihadapi di masa dewasa. Proses perkembangan yang dialami remaja akan menimbulkan permasalahan bagi mereka sendiri dan mereka yang berada dekat dengan lingkungan hidupnya. Sesungguhnya semua permasalahan selama masa peralihan ini diwarnai oleh masalah utama, yakni pembentukan identitas diri.
Pada umumnya permulaan masa remaja ditandai oleh perubahan-perubahan fisik yang mendahului kematangan seksuil, bersamaan dengan perubahan fisik ini diikuti pula dengan perkembangan psikis remaja, di mana mereka mulai melepaskan diri dari ikatan dengan orang tuanya. Apabila timbul permasalahan pribadi pada masa ini, maka sifat permasalahan berciri khas. Dengan demikian uluran tangan dalam usaha memberikan bantuan kepada remaja untuk menyelesaikan masalah sangatlah penting agar para remaja tidak sampai terjerumus ke dalam hal-hal negatif yang menyebabkan kenakalan remaja.
Dalam bahasan makalah ini, kami menggunakan metode observasi terhadap perilaku remaja berusia 16 tahun dengan beberapa aspek perkembangan positif dan negatifnya. Untuk aspek positif diusahakan supaya tetap terpupuk dalam diri remaja tersebut dan untuk aspek perkembangan negatifnya akan kami berikan solusi untuk permasalahan tersebut.

1.2 Landasan Teori
Dalam buku psikologi remaja yang ditulis oleh Dra. Ny. Y.Singgih D. Gunarsa dan Dr. Singgih D. Gunarsah disebutkan beberapa ciri-ciri umum masa remaja antara lain:
1. Kegelisahan: Keadaan yang tidak tenang menguasai diri si remaja. Mereka mempunyai banyak macam keinginan yang tidak selalu dapat dipenuhi. Di satu pihak ingin mencari pengalaman, karena diperlukan untuk menambah pengetahuan dan keluwesan dalam tingkah laku. Di pihak lain mereka merasa belum mampu melakukan berbagai hal. Mereka ingin tahu segala peristiwa yang terjadi di lingkungan luas, akan tetapi tidak berani mengambil tindakan untuk mencari pengalaman dan pengetahuan langsung dari sumber-sumbernya. Akhirnya mereka hanya dikuasai oleh perasaan gelisah karena keinginan-keinginan yang tidak tersalurkan.
2. Pertentangan: Pertentangan-pertentangan yang terjadi di dalam diri mereka sendiri juga menimbulkan kebingungan baik bagi mereka sendiri maupun orang lain. Pada umumnya timbul perselisihan dan pertentangan pendapat dan pandangan antara si remaja dan orang tua.selanjutnya pertentangan ini menyebabkan timbulnya keinginan yang hebat untuk melepaskan diri dari orang tua. Akan tetapi keinginan untuk melepaskan diri ini ditentang lagi oleh keinginan memperoleh rasa aman di rumah. Mereka tidak berani mengambil risiko dari tindakan meninggalkan lingkungan yang aman di antara keluarganya.
3. Berkeinginan besar mencoba segala hal yang belum diketahuinya. Mereka ingin mengetaui macam-macam hal melalui usaha-usaha yang dilakukan dalam berbagai bidang. Mereka ingin mencoba apa yang dilakukan oleh orang dewasa. Remaja pria mencoba merokok secara tersembunyi, seolah-olah ingin membuktikan apa yang dilakukan orang dewasa dapat pula dilakukan oleh si remaja. Remaja puteri yang mulai bersolek menurut mode dan kosmetik terbaru.
4. Keinginan mencoba sering pula diarahkan pada diri sendiri maupun terhadap orang lain. Keinginan mencoba ini tidak hanya dalam bidang penggunaan obat-obatan akan tetapi meliputi juga segala hal yang berhubungan dengan fungsi-fungsi kebutuhannya. Akhirnya penjelajahan kebutuhan bisa menyebabkan pengalaman dengan akibat yang tidak selalu menyenangkan, misalnya kehamilan, yang menghentikan karier dan prestasi sekolah yang justru diidamkan pemuda-pemudi.
5. Keinginan menjelajah ke alam sekitar pada remaja lebih luas. Bukan hanya lingkungan dekatnya saja yang ingin diselidiki, bahkan lingkungan yang lebih luas lagi. Keinginan ini dapat disalurkan ke arah yang bermafaat sehingga dapat menghasilkan penemuan alat-alat baru atau modifikasi perlengkapan rumah seperti halnya radio atau alat-alat elektronika lain.
6. Mengkhayal dan berfantasi.
Keinginan menjelajah lingkungan tidak selalu mudah disalurkan. Pada umumnya keinginan menjelajah mengalami pembatasan khususnya dari segi keuangan. Faktor-faktor yang menhalangi penyaluran keinginan bereksplorasi dan bereksperimen pada remaja terhadap lingkungan ini menyebabkan remaj mengambil jalan keluar dengan cara berkhayal dan berfantasi.
7. Aktifitas berkelompok: Antara keinginan yang satu dengan keinginan yang lain sering timbul tantangan, tetapi dalam kenyataanya remaja belum mampu hidup terlepas dari keluarga, maupun keinginan menjelajah alam, menggali misteri yang ada dalam lingkungan alam. Hal ini jelas tidak akan dapat dibiarkan sehingga perlu usaha mencari jalan ke luar dari keadaan seperti ini. Kebanyakan remaja menemukan jalan keluar dengan berkumpul-kumpul melakuakan kegiatan bersama, mengadakan penjelajahan secara berkelompok.



BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Masalah
Dalam observasi yang kami lakukan terhadap remaja yang berusia 16 tahun dengan latar belakang keluarga yang berkecukupan namun kurang adanya perhatian dan komunikasi antara remaja tersebut dengan lingkungan keluarganya dapat kami amati tingkah laku-tingkah laku sebagai berikut:
a. Sering menyendiri di kamar
b. Pemarah
c. Lebih suka bergaul dengan teman daripada dengan keluarga
d. Sering tidak menghiraukan perintah orang tua
e. Mengisi waktu luang dengan bermain gitar atau main game di komputer

2.2 Solusi
Remaja tersebut lebih sering menyendiri akibat kurang adanya keharmonisan hubungan antara remaja tersebut dengan lingkungan di keluarganya. Komunikasi memegang peran penting dalam memberikan solusi untuk mengatasi masalah apa yang sedang dialami remaja tersebut. Orang tua dan keluarga harus menciptakan suasana yang harmonis dengan berusaha memahami dan mendekati remaja tersebut sehingga timbul kepercayaan remaja tersebut kepada lingkungan keluarga. Dengan demikian maka akan timbul kemauan remaja tersebut untuk berkomunikasi dan bercerita tentang masalah yang sedang dihadapinya kepada keluarga. Sikap terbuka demikian akan lebih memudahkan melakukan bimbingan kepada remaja tersebut karena remaja akan merasakan adanya kehangatan, kasih saying, dan ketenteraman keluarga terhadap dirinya.
Untuk masalah pergaulan, kita harus tetap mengawasi dan mengarahkan agar jangan sampai remaja tersebut salah memilih teman bergaul, pengawasan langsung sulit dilakukan tetapi yang tidak langsung akan lebih diterima oleh kelompok. Dari hasil observasi kami, alhamdulillah pergaulan remaja tersebut menuju ke arah kebaikan. Teman-teman pergaulannya di lingkungan masyarakat adalah sekolompok santri di salah satu pesantren di desanya. Setiap kali mereka berkumpul di rumah hanya sekedar mengobrol tentang kegiatan sehari-hari mereka, kadang masalah kegiatan program kerja di pesantren, dan terkadang juga bercerita tentang masalah di sekolah mereka. Kemudian jika tiba waktunya mengaji maka mereka berangkat bersama-sama menuju pesantren.
Untuk kegiatan mengisi waktu luang dengan bermain gitar kita tidak bisa melarangnya untuk berkreasi, karena remaja tersebut juga mempunyai sebuah group band di sekolahnya. Kemampuan serta bakat yang mereka miliki bisa diarahkan kea rah yang lebih positif, misalnya dengan mengikuti perlombaan yang biasa diadakan pihak sekolah ketika ada kegiatan gelar seni pelajar. Yang terpenting kita harus tetap membimbing dan memberikan pengarahan agar renaja tersebut tidak sampai terjerumus pada hal-hal yang negatif seperti narkoba ataupun tawuran antar pelajar. Dalam hal ini guru sebagai sosok teladan bagi muridnya juga memiliki peran penting dalam mengawasi serta membimbing anak didik mereka agar jangan sampai mereka terlibat dalam hal-hal tersebut.
Tentang permainan game komputer mungkin kita lebih baik kita biarkan juga untuk mengurangi kejenuhan remaja tersebut asalkan tahu waktu. Di samping itu mungkin melalui permainan itu remaja juga bisa menyalurkan emosi-emosi yang terpendam dalam hati mereka. Tapi andaikan kita bisa menyadarkan mereka agar lebih baik mereka mengisi waktu luang dengan belajar ataupun membaca buku maka hal itu akan lebih baik lagi.



BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Masa remaja adalah masa transisi dari periode anak menuju dewasa. Secara psikologis kedewasaan tentu bukan hanya tercapainya umur tertentu akan tetapi juga tercapainya suatu keadaan di mana telah ada ciri-ciri psikologik tertentu pada diri seseorang.
Dalam masa perkembangannya tujuan utamanya adalah pembentukan identitas diri dalam penyesuaian peranan sosial yang banyak mengalami perubahan karena adanya suatu rangkaian konflik yang semakin bertambah. Remaja harus menjadi seorang individu yang dapat berdiri sendiri, akan tetapi tetap harus dapat membina hubungan baik dengan lingkungannya agar bisa menghasilkan kepribadian yang harmonis dan dewasa.






DAFTAR PUSTAKA

Gunarsa, Singgih D. Psikolog Remaja. Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia, 2003.
Panuju, Panut. Psikologi Remaja. Yogyakarta: Tiara Wacana, 1999.

ads

Ditulis Oleh : Lukman Psiko Hari: 19.44 Kategori:

0 komentar:

Posting Komentar